CEO Pershing Square, Bill Ackman, menolak untuk menyelesaikan klaim diskriminasi gender yang dia sebut sebagai tuduhan palsu dari karyawan family office yang telah dipecat, beberapa minggu sebelum IPO senilai US$10 miliar.
Unggahan tersebut dengan cepat menjadi viral dan langsung mendapat dukungan publik dari Elon Musk serta venture capitalist Chamath Palihapitiya, di mana keduanya menganggap gugatan seperti ini sebagai pajak tersembunyi bagi dunia bisnis.
Ackman mengungkap bahwa dirinya mendirikan sebuah family office bernama TABLE sekitar 15 tahun lalu dan mempekerjakan seorang teman terpercaya untuk mengelolanya.
Selama satu dekade terakhir, biaya operasional dan jumlah karyawan meningkat pesat, sementara portofolio investasinya sebagian besar tetap pasif.
Karena khawatir dengan pengeluaran yang melonjak dan tingkat pergantian staf yang tinggi, Ackman kemudian mengajak keponakannya, lulusan baru Harvard yang telah berpengalaman melakukan restrukturisasi di pembuat jam tangan Bremont di Inggris. Keponakannya mulai mewawancarai karyawan dan menilai operasional perusahaan.
Setelah itu, terjadi pengurangan karyawan. Ackman memecat presiden dan sekitar sepertiga anggota tim. Semua orang, kecuali satu, meninggalkan perusahaan secara profesional.
Pengecualiannya adalah seorang pengacara internal yang ia sebut sebagai “Ronda”. Dia telah bekerja selama 30 bulan dengan gaji US$1,05 juta plus tunjangan.
Setelah pemecatan tersebut, dia menuntut pesangon dua tahun, sekitar US$2 juta, dan menyewa firma hukum Silicon Valley untuk mengirimkan surat ancaman terkait tuduhan diskriminasi gender dan lingkungan kerja yang tidak bersahabat.
Ackman berargumen bahwa tuduhan tersebut dibuat-buat setelah kejadian. Ia menulis bahwa pengacara tersebut bertanggung jawab atas kepatuhan tempat kerja di TABLE dan bahkan secara langsung memberikan pelatihan sensitivitas kepada keponakannya setelah ada keluhan sebelumnya.
Manajer hedge fund asal Amerika Serikat itu juga menuduh bahwa pengacara tersebut tidak pernah punya catatan melaporkan adanya pelecehan yang meluas.
Lalu ia merinci kronologi kejadian. Pada 4 Maret, ketika pengacara tersebut dipecat, putri Ackman mengalami pendarahan otak pada 5 Februari dan belum juga sadar.
Pada saat bersamaan, ia juga tengah merampungkan private placement untuk IPO Pershing Square, yang didaftarkan ke SEC pada 10 Maret dengan target dana US$5 miliar hingga US$10 miliar di NYSE.
Ackman menuding bahwa sang pengacara menghitung risiko reputasi dari gugatan diskriminasi publik, ditambah tekanan karena krisis kesehatan putrinya dan jadwal IPO, akan membuat dirinya terpaksa berdamai secara diam-diam.
Namun, ia memilih untuk bicara terbuka ke publik.
Respons dari para miliarder lain pun datang dengan cepat, di mana CEO Tesla, Elon Musk, mendukung pendapat bahwa penyalahgunaan klaim diskriminasi sudah kelewat batas.
Dalam nada yang sama, VC Chamath Palihapitiya, membagikan pengalamannya sendiri dengan pola yang dia sebut sebagai pemerasan.
Ia menyampaikan bahwa dirinya berkali-kali membayar penyelesaian kecil sebesar beberapa juta US$ setiap kali, sebelum akhirnya menyadari dirinya telah dijadikan sasaran.
Ia menjelaskan bahwa ia akhirnya mengambil sikap tegas dan memenangkan kasus di pengadilan, serta berjanji tidak akan pernah damai lagi.
Penekanan ini sejalan dengan komentar Chamath sebelumnya tentang rencana pajak miliarder di California, yang ia salahkan sebagai penyebab keluarnya lebih dari US$1 triliun kekayaan kena pajak dari negara bagian tersebut.
BeInCrypto sebelumnya melaporkan bahwa perdebatan pajak mempercepat perpindahan ke Florida. Di antara para elite teknologi dan aset kripto yang pindah terdapat nama-nama seperti Mark Zuckerberg dan Jeff Bezos, yang membeli properti di kawasan Indian Creek, Miami.
Unggahan Ackman sejalan dengan pola yang makin sering muncul, di mana individu beraset besar mulai menolak apa yang mereka anggap sebagai praktik penarikan hukum dan fiskal.
Mulai dari pemerasan di pengadilan hingga pajak kekayaan tingkat negara bagian, para miliarder kini lebih memilih konfrontasi daripada patuh diam-diam.
Ackman menilai industri litigasi ketenagakerjaan merugikan secara struktural. Ia menegaskan bahwa karena pengacara penggugat biasanya bekerja dengan sistem bagi hasil dan penyelesaian hampir selalu bersifat rahasia, maka tak ada risiko merusak reputasi jika mengajukan klaim palsu.
Ia juga menambahkan bahwa sistem tersebut justru meningkatkan risiko perekrutan bagi kelompok yang dilindungi, bukan malah mengurangi diskriminasi.
Apakah strategi hukum Ackman akan berhasil atau malah menjadi bumerang pada masa krusial menjelang IPO, akan menjadi ujian apakah CEO lain akan mengikuti langkahnya, atau tetap membayar apa yang disebut Chamath sebagai pajak.

