Binance dikabarkan menawarkan relokasi sukarela kepada karyawan mereka yang berbasis di UEA ke empat kota di Asia, karena serangan misil dan drone dari Iran terus mengguncang kawasan Teluk.
Langkah ini memberikan pilihan kepada staf untuk pindah ke Hong Kong, Tokyo, Kuala Lumpur, atau Bangkok. Binance memiliki lebih dari 1.000 karyawan di UEA, yang sebelumnya menjadi pusat manajemen global utama mereka.
Konflik AS-Israel-Iran, yang dimulai sejak 28 Februari, telah membuat UEA mengalami serangan udara secara terus-menerus.
Negara ini telah menghancurkan lebih dari 500 misil balistik, 2.200 drone, dan puluhan misil jelajah sejak awal permusuhan.
Gencatan senjata singkat yang diumumkan sekitar 8 April langsung runtuh. Di hari yang sama, UEA melaporkan telah mencegat 17 misil balistik dan 35 drone. Puing-puing yang jatuh menyebabkan korban luka dan kerusakan di area sipil.
Status Dubai sebagai pusat bisnis global dan destinasi aset kripto pun merosot tajam. TOKEN2049, salah satu konferensi aset kripto terbesar yang menargetkan sekitar 15.000 peserta, menunda edisi Dubai dari April 2026 ke April 2027.
Penyelenggara menyebut kekhawatiran soal keamanan, perjalanan, dan logistik sebagai alasan terkait konflik tersebut.
Binance memperoleh izin regulasi penuh dari Abu Dhabi Global Market (ADGM) pada Desember 2025. Operasi di bawah tiga entitas berlisensi dimulai sejak 5 Januari 2026, sehingga UEA menjadi yurisdiksi teregulasi utama mereka.
WuBlockchain sebelumnya melaporkan pada Maret bahwa Binance meminta karyawan di UEA untuk menghindari aktivitas di luar ruangan dan bekerja dari dalam ruangan setelah serangan awal di Dubai.
Tawaran relokasi saat ini, menurut WuBlockchain, merupakan peningkatan langkah perlindungan tersebut.
Keempat kota tujuan tersebut sudah menjadi pusat operasi Binance atau dalam tahap pengembangan. Exchange ini juga baru saja mengumumkan rencana mengajukan lima izin tambahan di Asia pada 2026 sebagai bagian dari strategi regionalisasi yang lebih luas.
Lisensi ADGM milik Binance masih aktif, dan tidak ada laporan yang menunjukkan exchange ini akan meninggalkan kerangka regulasi Abu Dhabi.
Meski begitu, pergeseran operasional ini menunjukkan bagaimana konflik di Teluk langsung memengaruhi peta industri kripto.


