S&P 500 menghapus kerugian awal dan sempat berbalik positif pada 13 April ketika militer AS mulai memberlakukan blokade laut di pelabuhan Iran di Selat Hormuz.
Pembalikan tren intraday ini mengejutkan para trader. Futures saham anjlok tajam semalaman setelah Presiden Trump mengumumkan blokade Hormuz usai kegagalan pembicaraan damai AS-Iran di Islamabad. Kabarnya, pembicaraan itu gagal karena tidak ada kesepakatan soal pengayaan uranium, dukungan proxy, dan pelonggaran sanksi.
Pihak US Central Command mengonfirmasi blokade mulai berlaku pukul 10 pagi ET pada hari Senin. Blokade ini menyasar kapal dari seluruh negara yang masuk atau keluar pelabuhan Iran, namun tidak menghambat pelayaran ke tujuan non-Iran.
Sebelum operasi ini, Iran mengekspor lebih dari dua juta barel minyak per hari. Harga minyak mentah melonjak di atas US$104 per barel karena kekhawatiran pasokan. Harga bensin AS kini diprediksi akan naik di atas US$4,25 per galon.
S&P 500 sempat membukukan pekan terbaik sejak November, naik 3,6%, karena harapan ada solusi cepat untuk konflik tersebut.
Optimisme itu luntur pada Minggu malam sebelum akhirnya terjadi pembalikan intraday yang mengejutkan pada hari Senin.
Meski eskalasi terjadi, strategist JPMorgan Chase Mislav Matejka mendorong investor untuk membeli saat koreksi harga terjadi.
Pihak bank juga memperkirakan saham internasional, pasar emerging market, saham kapitalisasi kecil, dan saham value berpeluang mencatat kinerja lebih baik, serta aliran dana yang kemungkinan akan kembali masuk.
Bank ini memprediksi pemulihan berbentuk V dalam tiga sampai dua belas bulan, menyebut sentimen bearish dan kondisi oversold membuka peluang baru.
Beredar kabar pejabat Iran sedang mempertimbangkan untuk menghentikan pengayaan uranium sebagai syarat dari AS demi mengakhiri permusuhan. Laporan ini belum dikonfirmasi Teheran, tetapi ikut membantu pemulihan intraday di pasar saham.
Data pengiriman dari Kpler menunjukkan lalu lintas di Selat Hormuz jauh di bawah level normal meski ada sedikit peningkatan saat akhir pekan. Gagalnya negosiasi dan ketidakjelasan penegakan blokade masih menahan aliran kapal di jalur penting yang menangani sekitar 20% pasokan minyak dunia ini.
Bitcoin (BTC) bertahan di atas US$71.000, diperdagangkan di kisaran US$71.611 dengan kenaikan harian 0,74%. Ketahanan ini mencerminkan pola lebih luas, yaitu aset berisiko selalu mampu melewati guncangan geopolitik selama konflik lalu segera reli kembali.
Apakah ketenangan ini akan bertahan sangat tergantung pada peristiwa intersepsi pertama dan kemungkinan terobosan diplomatik dalam beberapa hari ke depan.

