Superyacht Nord senilai US$500 juta, yang terhubung dengan miliarder Rusia yang terkena sanksi, Alexey Mordashov, melintasi Selat Hormuz pada akhir pekan lalu. Penyeberangan ini menarik perhatian baru terkait celah penegakan sanksi Barat.
Yacht sepanjang 142 meter hasil buatan Lürssen ini berlayar secara terbuka dari Dubai ke Muskat antara 24 hingga 26 April. Kapal tersebut menyiarkan posisinya melalui automatic identification system, sementara aktivitas pelayaran komersial terhambat di kedua ujung jalur penting itu.
Mordashov telah terkena sanksi dari Amerika Serikat, Uni Eropa, dan Inggris sejak 2022 karena kedekatannya dengan Vladimir Putin.
Sanksi itu mengutip kepemilikan sekitar 77% sahamnya di Severstal, produsen baja terbesar di Rusia. Sanksi juga membidik kepentingannya di Bank Rossiya dan media yang berpihak pada negara.
Yacht itu sendiri belum pernah disita. Catatan publik tidak mencantumkan Mordashov sebagai pemilik. Sebaliknya, data pelayaran mengaitkan Nord dengan perusahaan Rusia yang dikelola oleh istrinya, Marina Mordashova. Struktur kepemilikan ini secara luas dipahami sebagai perlindungan dari pembekuan aset Barat.
Reuters melaporkan kapal itu meninggalkan marina Dubai sekitar pukul 14.00 GMT pada 24 April. Kapal tersebut menyeberangi Selat Hormuz pagi berikutnya dan tiba di Muskat pada Minggu pagi. Data MarineTraffic menunjukkan rute kapal itu secara real time.
Lalu lintas di Hormuz menurun drastis sejak Amerika Serikat memberlakukan blokade maritim terhadap pelabuhan Iran pada 13 April.
Penyeberangan harian turun dari sekitar 140 kapal menjadi hanya beberapa saja. Ratusan kapal tanker kini menunggu di kedua ujung selat tersebut.
Iran memberikan izin khusus kepada kapal-kapal yang berhubungan dengan Rusia berdasarkan kerja sama tahun 2025, menurut laporan dari The Independent.
Nord mengikuti jalur aman yang ditetapkan Iran di selatan Pulau Larak saat menuju Oman. Jalur ini menempatkannya di luar fokus penegakan Amerika Serikat yang mengawasi lalu lintas ke pelabuhan Iran.
Penyeberangan ini menunjukkan bagaimana struktur kepemilikan berlapis dan negara tuan rumah yang mendukung dapat melindungi aset Rusia dari aksi Barat yang terkoordinasi.
Pembatasan maritim secara umum pun terus diperketat di wilayah Teluk lainnya.


