Cryptoharian – Perusahaan pemegang Bitcoin korporasi terbesar di dunia, Strategy, melaporkan kerugian bersih sebesar US$ 12,54 miliar pada kuartal pertama 2026. Sebagian besar kerugian tersebut berasal dari penurunan nilai Bitcoin yang belum direalisasikan selama awal tahun.
Dalam laporan keuangannya, Strategy mencatat unrealized loss sebesar US$ 14,46 miliar akibat pelemahan harga Bitcoin pada beberapa bulan pertama 2026.
Meski begitu, perusahaan tetap melanjutkan strategi akumulasi BTC secara agresif.
Sepanjang kuartal pertama, Strategy membeli tambahan 89.599 BTC. Dengan pembelian tersebut, total kepemilikan perusahaan kini mencapai 818.334 BTC, naik sekitar 22 persen sejak awal tahun.
Di luar dampak akuntansi Bitcoin, bisnis software inti perusahaan sebenarnya masih menunjukkan pertumbuhan yang relatif stabil. Total pendapatan naik 11,9 persen secara tahunan menjadi US$ 124,3 juta, sementara laba kotor mencapai US$ 83,4 juta.
Untuk mendukung strategi akumulasi tersebut, perusahaan juga aktif menggalang dana dari pasar modal. Hingga saat ini, Strategy telah menghimpun hampir US$ 12 miliar sepanjang 2026, termasuk US$ 7,37 miliar hanya pada Q1 melalui penjualan saham MSTR dan instrumen saham preferen.
Salah satu fokus utama dalam laporan kali ini adalah STRC, saham preferen berbunga variabel milik Strategy.
Perusahaan menyebut nilai nosional STRC kini telah mencapai US $8,5 miliar hanya dalam sembilan bulan, menjadikannya salah satu saham preferen terbesar berdasarkan kapitalisasi pasar.
CFO Andrew Kang mengatakan total dividen yang telah dibayarkan perusahaan kini melampaui US$693 juta melalui 23 distribusi berturut-turut.
Namun, instrumen ini juga memunculkan kekhawatiran baru di pasar.
Baca Juga: Volume Stablecoin Anjlok 19 Persen, Ada Apa dengan Pasar Kripto?
Michael Saylor Buka Kemungkinan Jual Bitcoin
Hal paling menarik dari earnings call kali ini datang dari pernyataan Executive Chairman Michael Saylor yang membuka kemungkinan perusahaan menjual sebagian Bitcoin untuk membayar dividen.
“Kami mungkin akan menjual sebagian Bitcoin untuk membayar dividen hanya untuk menunjukkan kepada pasar bahwa kami memang bisa melakukannya,” ujar Saylor.
Pernyataan tersebut cukup mengejutkan karena selama bertahun-tahun Saylor dikenal sebagai pendukung kuat strategi “never sell Bitcoin.”
Analis Jeff Park bahkan menilai komentar tersebut jauh lebih penting dibanding diskusi Strategy sebelumnya terkait pengelolaan kas dan kewajiban dividen.
Selain itu, pasar juga mulai menyoroti sensitivitas STRC terhadap suku bunga AS karena instrumen tersebut memiliki bunga mengambang. Hal ini menjadi relevan di tengah ekspektasi perubahan kebijakan Federal Reserve di bawah calon ketua baru Kevin Warsh.


