Cryptoharian – Sejumlah trader kripto memicu kontroversi setelah terang-terangan berharap munculnya pandemi global baru demi mendorong reli koin meme berikutnya.
Spekulasi ini muncul setelah wabah hantavirus dilaporkan terjadi di sebuah kapal pesiar yang berangkat dari Argentina. Di media sosial X, beberapa trader bahkan mulai mengaitkan potensi penyebaran virus tersebut dengan peluang munculnya “memecoin supercycle.”
Salah satu akun X bernama “@jeetassassin,” yang memiliki badge dari exchange berbasis Solana Moonshot, menulis bahwa hantavirus “akan memicu supercycle koin meme berikutnya.”
Tak lama setelah itu, Moonshot mengumumkan telah memverifikasi token bertema hantavirus bernama HANTA yang dibuat melalui platform Pump Fun. Token tersebut menggunakan gambar AI berupa virus dan tikus sebagai identitas proyeknya.
Trader Memecoin Berharap Volume Pasar Meledak Lagi
CEO Nansen, Alex Svanevik ikut menyinggung fenomena tersebut dengan mengatakan bahwa pandemi COVID-19 pada 2020 melahirkan era “DeFi summer,” sementara wabah baru bisa saja memicu “agentic summer.”
Di media sosial, sejumlah trader koin meme bahkan secara terbuka berharap pandemi benar-benar terjadi agar token bertema hantavirus bisa melonjak tajam.
Salah satu pengguna menulis bahwa trader koin meme ingin dunia mengalami pandemi global lagi agar investasi US$ 500 mereka di token “handavirus” bisa naik 100 kali lipat.
Baca Juga: Strategy Rugi US$ 12,5 Miliar, Tapi Tetap Borong Bitcoin Besar-Besaran
Pengguna lain yang memakai badge Pump Fun juga mempertanyakan apakah wabah hantavirus bisa memicu supercycle baru di pasar memecoin.
Fenomena ini memunculkan kritik terhadap budaya spekulasi ekstrem di sektor koin meme, di mana sebagian trader dianggap mulai tidak peduli terhadap isu global selama volatilitas pasar meningkat.
WHO Tegaskan Hantavirus Tidak Seperti COVID-19
Meski hype koin meme mulai berkembang, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menegaskan bahwa hantavirus sangat berbeda dengan COVID-19 dan tidak mudah menyebar secara global.
Virus Andes hantavirus dilaporkan terdeteksi di kapal pesiar yang berangkat dari Argentina bulan lalu. Lima penumpang dipastikan terinfeksi, tiga lainnya diduga tertular, dan tiga korban dilaporkan meninggal dunia.
Namun, WHO menegaskan risiko bagi publik masih rendah.
Epidemiolog WHO, Maria van Kerkhove, mengatakan bahwa virus tersebut tidak menyebar seperti COVID-19 maupun influenza.
Menurut WHO, penularan hantavirus memerlukan kontak dekat dan berlangsung cukup lama, sehingga peluang menjadi pandemi global jauh lebih kecil.
Meski demikian, hantavirus tetap tergolong berbahaya karena dapat menyebabkan hantavirus cardiopulmonary syndrome, penyakit pernapasan dengan tingkat kematian yang dapat mencapai 50 persen.

