Penurunan harga XRP semakin memicu perdebatan di pasar aset kripto, karena token Ripple terus tertinggal dari aset digital utama lainnya di tahun 2026.
Kekecewaan yang bertambah di kalangan trader dan holder menunjukkan semakin lebarnya kesenjangan antara harapan dan kinerja pasar sesungguhnya.
Penurunan harga XRP mencerminkan hilangnya momentum yang berkelanjutan walaupun ada beberapa perkembangan positif dalam ekosistem Ripple secara menyeluruh. Token ini masih berada sekitar 26% lebih rendah secara year-to-date dan terus diperdagangkan di kisaran US$1,36–US$1,37.
Data pasar terbaru juga menempatkan XRP sekitar 62% di bawah all-time high di US$3,65 yang terjadi pada Juli 2025, menurut CoinGecko. Aktivitas perdagangan harian tetap tinggi, dengan volume yang berfluktuasi antara kurang lebih US$1,65 miliar hingga US$1,77 miliar.
Angka-angka ini menonjol karena XRP mengalami sejumlah perkembangan penting baru-baru ini. Ripple mendapatkan kemajuan besar di bidang regulasi melalui penyelesaian hukum yang melibatkan SEC.
Exchange-traded fund (ETF) XRP spot pun sudah masuk ke pasar, sementara produk institusional seperti Ripple Prime turut memperluas ekosistem perusahaan tersebut.
Meski ada berbagai kemajuan ini, pergerakan harga tetap saja lemah. XRP bergerak dalam rentang sempit di antara US$1,35–US$1,38 pada beberapa sesi terakhir. Analis teknikal masih menggambarkan struktur pasar ini sebagai rapuh, dengan tekanan jual yang mendominasi sentimen.
Beberapa pengamat pasar yakin area antara US$1,30 dan US$1,35 dapat menjadi zona support yang sangat penting. Breakdown di bawah rentang ini bisa meningkatkan risiko penurunan ke level harga yang lebih rendah.
Perdebatan semakin bernuansa emosional di platform media sosial. Banyak trader mulai mempertanyakan secara terbuka apakah narasi jangka panjang dari Ripple sejalan dengan hasil pasar yang nyata.
Beberapa pengguna bahkan memakai kata-kata yang jauh lebih keras, menyebut token ini “penipuan” dan menuduh Ripple hanya mengandalkan “propaganda murahan” daripada menghadirkan performa harga yang lebih kuat.
Kritik ini mencerminkan akumulasi kekecewaan selama bertahun-tahun. Ripple berulang kali memposisikan XRP sebagai solusi pembayaran lintas negara, menyoroti kemitraan perbankan, interoperabilitas, serta perannya dalam transformasi finansial global.
Sejumlah investor ritel berharap perkembangan tersebut dapat memicu apresiasi harga yang jauh lebih besar di pasar. Akan tetapi, XRP justru menjadi salah satu yang paling lemah di antara aset kripto utama pada 2026.
Para pengkritik berpendapat bahwa pengumuman yang bernada optimistis seringkali cuma menimbulkan semangat sementara namun gagal memberi dampak harga yang bertahan lama. Persepsi semacam ini secara perlahan melemahkan kepercayaan trader yang mengharap imbal hasil lebih tinggi.
Di sisi lain, para pendukung melihat situasi ini secara berbeda. Mereka meyakini XRP kini berkembang menjadi aset yang lebih dewasa dan lebih berfokus pada kebutuhan institusi, bukan pada pergerakan harga spekulatif.
Perkembangan seputar XRP Ledger, layanan kustodian, solusi likuiditas, serta kejelasan regulasi yang lebih luas bisa menopang pertumbuhan jangka panjang. Walaupun begitu, arah institusional ini semakin sering berbenturan dengan harapan investor ritel yang mendambakan cuan cepat.
Perdebatan kini sudah melampaui sekadar pergerakan harga. Topik utama semakin mengarah pada pertanyaan besar: apakah adopsi dan pembangunan infrastruktur pada akhirnya bisa benar-benar menjelma menjadi nilai pasar yang berkelanjutan?
Berlangganan ke saluran YouTube kami untuk menonton para pemimpin dan jurnalis berbagi wawasan ahli

