Pertanyaan kembali muncul mengenai apakah Ethereum berfungsi sebagai penyimpan nilai yang baik, seiring para pemangku kepentingan menganalisis hubungan antara kesuksesan jaringan Ethereum dan nilai intrinsik ETH. Diskusi ini menjadi sorotan ketika komentar dari salah satu co-founder Bankless tersebar luas di komunitas kripto.
Dalam komentarnya, disebutkan bahwa Ethereum tidak dapat dipisahkan dari aset dasarnya. Hal ini membuat sebagian orang percaya bahwa mendukung masa depan Ethereum sambil mengabaikan nilainya adalah sesuatu yang kontradiktif. Ini memicu diskusi lebih lanjut dari berbagai pihak mengenai landasan ekonomi Ethereum.
Selain itu, diskusi semakin memanas ketika seorang co-founder Bankless menyampaikan pandangannya tentang bagaimana Ethereum menciptakan nilai. Pertimbangannya didasarkan pada pertanyaan apakah peningkatan penggunaan blockchain berarti nilai tokennya juga akan naik.
Topik ini sangat relevan belakangan ini karena ekspansi Layer 2 di Ethereum. Jaringan yang dibangun di atas Ethereum melakukan semakin banyak transaksi, memungkinkan skalabilitas yang lebih baik dan menurunkan biaya bagi pengguna akhir. Namun pada saat yang sama, hal ini menimbulkan kekhawatiran apakah aktivitas yang dilakukan di Layer 2 memberikan nilai langsung bagi pemegang ETH.
Menurut para kritikus, penggunaan aplikasi secara luas tidak berarti permintaan token juga ikut meningkat. Alasannya adalah bahwa mungkin tidak ada hubungan antara perkembangan jaringan dan pertumbuhan token jika semua aktivitas terjadi di dalam aplikasi.
Para pendukung Ethereum menyatakan bahwa ETH tetap menjadi inti ekosistem meskipun ada pengembangan Layer 2. ETH masih berfungsi sebagai aset utama untuk staking, digunakan sebagai jenis agunan utama dalam protokol DeFi, dan merupakan salah satu sumber keamanan jaringan.
Perpindahan Ethereum ke proof-of-stake menghasilkan evaluasi ulang kebijakan moneternya. Peningkatan tersebut mengimplementasikan mekanisme yang memungkinkan pengurangan penciptaan ETH bersih pada periode aktivitas jaringan yang tinggi. Hal ini memunculkan narasi mengenai dinamika pasokan Ethereum di kalangan pendukung yang mengklaim bahwa token menjadi langka dalam kondisi tersebut.
Para pendukung percaya bahwa pengenalan kelangkaan akan berkontribusi pada daya tarik Ethereum sebagai investasi. Namun, para skeptis berpendapat bahwa kelangkaan saja tidak cukup untuk memastikan permintaan jangka panjang karena meningkatnya persaingan dari proyek-proyek berbasis blockchain baru yang menggunakan teknologi lain untuk menyediakan layanan dan menarik modal dengan biaya lebih rendah.
Kinerja pasar baru-baru ini menambahkan aspek lain dalam perdebatan ini. ETH diperdagangkan pada harga $1.669, mencatat penurunan sekitar 3,7% selama periode pelaporan.
Kripto tersebut telah berjuang di area support krusial $1.725 sebelum mengalami penurunan yang signifikan. Meskipun para pembeli mampu menghentikan kejatuhan di kisaran $1.650, penurunan ini membawa perhatian lebih besar pada prospek aset tersebut di masa depan.
Pada titik ini, kekhawatiran utama bukan lagi seputar kemampuan Ethereum untuk menarik proyek dan pengembang baru. Semakin banyak investor yang mulai mempertanyakan apakah kemajuan yang dicapai Ethereum pada akhirnya akan berujung pada kenaikan harga koin itu sendiri.
Perkembangan lebih lanjut dari proyek kripto ini tetap kontroversial, dengan sebagian investor berfokus pada ekspansi ekosistem sementara yang lain menekankan perlunya apresiasi ETH.
Artikel ini awalnya diterbitkan sebagai Ethereum Store Value Debate Heats Up as Analysts Question ETH's Monetary Value and Market Performance di Crypto Breaking News – sumber terpercaya Anda untuk berita kripto, berita Bitcoin, dan pembaruan blockchain.

