Harga XRP turun sekitar 9% dalam sepekan terakhir, tapi penurunannya lebih kecil dibandingkan setiap token berkapitalisasi besar lainnya di periode yang sama. Altcoin ini diperdagangkan di kisaran US$1,16 setelah melewati bulan yang berat.
Kekuatan relatif itu bukan sekadar keberuntungan. Ada beberapa sinyal dari arus dana, posisi, dan akumulasi yang menunjukkan bagaimana XRP mampu bertahan lebih baik dari aset lain, dan apa yang perlu terjadi agar pergerakannya bisa berlanjut.
Kita mulai dari papan skor. XRP merosot sekitar 9% selama tujuh hari terakhir, dan angka ini baru bermakna kalau dibandingkan dengan para pesaingnya.
Ingin dapat insight token seperti ini setiap hari? Daftar Newsletter Harian Crypto dari Editor Harsh Notariya dengan klik di sini.
Bitcoin (BTC) anjlok sekitar 11% dalam periode yang sama. Ethereum (ETH) kehilangan sekitar 16%, dan Solana (SOL) turun hampir 17%. XRP menjadi yang paling minim kerugian di antara aset besar lainnya.
Bahkan BNB pun lebih lemah daripada XRP dalam time frame mingguan.
Seluruh pasar kripto cenderung menghindari risiko. Exchange-traded fund (ETF) Bitcoin spot dan Ethereum mencatatkan arus keluar terbesar di awal Juni, dan modal keluar dari token dengan risiko tinggi lainnya.
XRP juga mengalami tekanan jual yang sama, namun mampu turun lebih lambat. Inilah yang disebut kekuatan relatif, di mana sebuah aset melemah lebih lambat daripada kelompoknya, dan biasanya jadi area yang lebih cepat menarik kembali pembeli. Petunjuk pertama mengapa XRP bisa bertahan terlihat dari data smart money.
Inilah jawaban pertamanya. Smart Money Index, yang melacak apakah trader berpengalaman membeli atau menjual di titik-titik penting, justru bergerak berlawanan arah dengan harga.
Antara 6 Februari hingga awal Juni, harga XRP cenderung turun. Tapi di periode yang sama, Smart Money Index justru naik.
Harga menurun sementara indikator posisi trader berpengalaman naik. Kini indeks itu mulai melengkung ke arah garis sinyalnya, yang mungkin mengindikasikan tekanan jual mulai mereda.
Pembelian dari para trader berpengalaman inilah yang membuat penurunan harga lebih terbatas. Ini sebagian menjelaskan kenapa XRP tidak jatuh sedalam BTC, ETH, atau SOL. Alasan kedua terlihat dari kemana perginya token-token itu.
Jejak akumulasi jelas terlihat, dan data XRP menunjukkan hal yang sama dengan sinyal smart money tadi.
Arus XRP di exchange menurun tajam. Data perubahan posisi bersih di exchange yang melacak pergerakan token masuk dan keluar exchange, turun dari sekitar minus 8 juta XRP pada 3 Juni menjadi sekitar minus 92 juta XRP pada 8 Juni. Ini artinya terjadi kenaikan arus keluar bersih sebesar 1.050%.
Token yang keluar dari exchange saat harga turun berarti para holder lebih memilih memindahkan XRP ke cold storage ketimbang menjualnya. Pola ini membuat pasokan yang tersedia menjadi semakin ketat.
Sinyal ini semakin memperkuat sinyal kenaikan smart money tadi.
Dua faktor ini menjelaskan apa yang terjadi sebelumnya. Sedangkan alasan ketiga menjawab kemungkinan yang akan terjadi berikutnya.
Kondisi yang membuat penurunan terkendali juga bisa menjadi pendorong reli selanjutnya. Di pasar perpetual XRP milik Bybit, leverage likuidasi short 30 hari mencapai sekitar US$134 juta dibandingkan posisi long sekitar US$80 juta.
Ketidakseimbangan ini membuka peluang aksi harga naik yang memaksa posisi short menutup deal mereka, sehingga terjadi short squeeze, yaitu reli cepat karena aksi beli paksa.
Grafik harga XRP memperjelas pemicunya. Berdasarkan swing dari level tertinggi 17 Maret ke terendah 5 April dan puncak 14 Mei, harga XRP menemukan titik support di kisaran US$1,04, sedikit di atas extension 1,618 di US$1,01.
Swing sebelumnya berhasil bertahan. Sekarang, rintangan pertama untuk skenario bullish ada di US$1,22, lalu di US$1,29. Jika XRP berhasil kembali ke US$1,34, yaitu level yang hilang pada akhir Mei, itu akan memastikan kekuatan yang nyata. Tapi, hanya dengan menembus US$1,22 saja sudah bisa memicu potensi short squeeze, sesuai dengan peta likuidasi yang sudah dibagikan sebelumnya.
Ada catatan penting soal tekanan beli. Jika permintaan menurun sebelum mampu menembus US$1,22, maka potensi short squeeze akan gagal dan harga bisa kembali retest ke US$1,04. Inilah skenario bearish. Level US$1,22 pun menjadi batas yang menentukan, apakah akan terjadi short squeeze yang didorong oleh smart money atau justru harga turun lagi menuju US$1,04.
