Amerika Serikat melancarkan serangan terhadap Iran pada hari Selasa setelah sebuah helikopter Apache milik AS ditembak jatuh di Selat Hormuz, memutuskan gencatan senjata rapuh yang sebelumnya diumumkan oleh Presiden Donald Trump.
Langkah ini langsung memicu volatilitas di pasar Bitcoin, emas, dan minyak, sehingga pasar bergerak tajam dan memberikan sinyal penting yang harus diperhatikan selanjutnya.
Komando Pusat AS mengonfirmasi bahwa pasukannya melakukan serangan untuk pertahanan diri sekitar pukul 5 sore waktu ET pada hari Selasa. Kru helikopter Apache yang ditembak jatuh berhasil diselamatkan dengan aman, dan Presiden Donald Trump menyebut aksi tersebut sebagai respons yang sepadan terhadap agresi Iran.
Iran mengecam operasi itu sebagai pelanggaran berat terhadap gencatan senjata dan memperingatkan kemungkinan balasan. Mediator internasional, termasuk Pakistan, sebelumnya sudah berupaya memperpanjang gencatan tersebut dan mendorong adanya negosiasi yang lebih luas terkait program nuklir Iran serta keamanan kawasan dalam beberapa pekan terakhir.
Ikuti kami di X untuk mendapatkan berita terbaru secara langsung
Eskalasi ini terjadi setelah aksi Amerika Serikat dan Israel di bawah Operasi Epic Fury yang dimulai pada akhir Februari 2026. Kampanye tersebut menargetkan kemampuan militer dan nuklir Iran dan telah membentuk lanskap risiko kawasan selama kuartal terakhir.
Bagi pasar, pesan yang diterima sangat jelas. Penghindaran risiko mendominasi sesi trading segera setelah kabar tersebut keluar, dan investor ramai-ramai meninggalkan aset spekulatif untuk mencari perlindungan ke instrumen keuangan global yang lebih aman.
Harga Bitcoin anjlok di bawah US$62.000, turun sekitar 2% dalam 24 jam terakhir menurut data CoinGecko. Aset kripto ini mengalami tekanan jual yang kuat karena investor kabur dari aset berisiko di tengah kekhawatiran konflik kawasan Timur Tengah akan meluas.
Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran sebelumnya juga sempat memicu penurunan serupa. Bitcoin sempat turun ke level terendah dalam beberapa pekan karena kekhawatiran likuiditas dan menurunnya selera risiko, memperjelas bahwa aset ini masih bergerak layaknya saham beta tinggi di tengah situasi yang penuh ketidakpastian.
Emas, aset safe haven klasik, juga justru tertekan meskipun awalnya diprediksi menguat. Harga spot emas berada di kisaran US$4.220, menunjukkan kenaikan terbatas bahkan cenderung lemah menurut beberapa laporan pasar.
Pergerakan yang tidak terduga ini mencerminkan dinamika ekonomi makro yang lebih dalam. Dolar AS yang menguat dan harga minyak yang naik memicu kekhawatiran baru soal inflasi dan ekspektasi kenaikan suku bunga, yang biasanya menekan harga aset tanpa imbal hasil seperti emas di pasar global.
Harga minyak menunjukkan volatilitas yang jelas namun tetap menguat akibat kekhawatiran pasokan. Brent crude berada di kisaran US$93, dengan fluktuasi dalam sehari yang mencerminkan kekhawatiran terhadap Selat Hormuz sebagai titik penting bagi sekitar 20% pengiriman minyak dunia.
Dampak secara umum sangat serius. Biaya energi yang lebih mahal bisa mendorong kenaikan inflasi, sehingga kemungkinan bisa menunda pemangkasan suku bunga oleh bank sentral. Sekarang, Bitcoin, emas, dan minyak sama-sama menunjukkan konsekuensi langsung dari gencatan senjata yang gagal: volatilitas meningkat, pelarian dari risiko, dan ketidakpastian baru.

