14 JUNI — "Lampu, kamera, aksi!"Bagi banyak lulusan universitas, wawancara kerja bisa terasa seperti melangkah...14 JUNI — "Lampu, kamera, aksi!"Bagi banyak lulusan universitas, wawancara kerja bisa terasa seperti melangkah...

Memberikan keunggulan bagi para lulusan di pasar kerja saat ini — Nuruladilah Mohamed

2026/06/14 08:51
durasi baca 4 menit
Untuk memberikan masukan atau menyampaikan kekhawatiran terkait konten ini, silakan hubungi kami di [email protected]

14 JUNI — "Lampu, kamera, aksi!"

Bagi banyak lulusan universitas, wawancara kerja bisa terasa seperti melangkah ke atas panggung. Sorotan cahaya tertuju; panel pewawancara mengamati dan setiap jawaban sangat berarti. 

Namun tidak seperti sebuah pertunjukan, tidak ada naskah yang perlu dihafal. Yang dibutuhkan para lulusan bukan penampilan sempurna, melainkan kemampuan untuk mempresentasikan pengalaman nyata mereka dengan percaya diri, jelas, dan terarah.

Di sinilah persiapan wawancara kerja di universitas memainkan peran penting. Di pasar kerja yang semakin kompetitif saat ini, kualifikasi akademik saja tidak lagi cukup. Para pemberi kerja semakin mencari lulusan yang mampu berkomunikasi secara efektif, berpikir kritis, memecahkan masalah, dan menunjukkan bahwa mereka siap menghadapi tuntutan dunia kerja.

Bagi banyak mahasiswa, perjalanan dari ruang kuliah ke ruang wawancara bisa menjadi tantangan tersendiri. Mereka mungkin memiliki pengetahuan, keterampilan, dan potensi, namun kesulitan mengungkapkannya dengan jelas saat menghadapi panel pewawancara. 

Ada yang memberikan jawaban terlalu singkat, sementara yang lain berbicara panjang lebar tanpa menyoroti poin yang paling penting. Inilah mengapa teknik wawancara terstruktur seharusnya diperlakukan sebagai bagian esensial dari kemampuan kerja lulusan.

Dalam kelas keterampilan wawancara kerja, mahasiswa sering diperkenalkan dengan teknik sederhana namun berguna yang dikenal sebagai metode STAR. STAR merupakan singkatan dari Situation (Situasi), Task (Tugas), Action (Tindakan), dan Result (Hasil). Meskipun namanya terdengar teknis, konsepnya sederhana. Metode ini mengajarkan mahasiswa cara menceritakan pengalaman mereka seperti sebuah cerita pendek, namun dengan cara yang terorganisir.

Dari pengalaman saya mengajar keterampilan wawancara kerja, saya memperhatikan bahwa banyak mahasiswa sudah memiliki cerita yang layak untuk dibagikan. Tantangannya adalah mereka sering tidak tahu cara mempresentasikan cerita-cerita tersebut saat wawancara.

Penulis berpendapat bahwa universitas harus membekali mahasiswa dengan keterampilan wawancara terstruktur, seperti metode STAR, untuk membantu lulusan mengomunikasikan pengalaman mereka dengan lebih efektif. — Foto arsip oleh Miera Zulyana

Ketika saya meminta mereka merespons pertanyaan wawancara yang umum seperti, "Ceritakan tentang saat Anda bekerja dalam tim," banyak yang memulai dengan jawaban sederhana seperti, "Saya pandai bekerja sama dalam tim." Meskipun jawabannya tidak salah, hal itu tidak banyak memberitahu pewawancara tentang siapa mereka atau apa yang dapat mereka lakukan.

Itulah mengapa saya mendorong mahasiswa saya untuk melampaui pernyataan umum. Saya mengingatkan mereka untuk memikirkan pengalaman nyata, mungkin dari tugas kelompok, proyek kelas, tugas magang, atau program universitas yang pernah mereka bantu selenggarakan. Kemudian, saya membimbing mereka untuk menjelaskan apa yang terjadi, peran apa yang mereka mainkan, tindakan apa yang mereka ambil, dan apa hasilnya.

Saya sering melihat mahasiswa terkejut ketika menyadari bahwa mereka memang memiliki pengalaman bermanfaat untuk diceritakan. Banyak lulusan baru merasa kurang pengalaman kerja, tetapi mereka terkadang lupa bahwa kehidupan kampus itu sendiri telah mengekspos mereka pada banyak keterampilan yang berkaitan dengan dunia kerja. Diskusi kelompok, presentasi, kegiatan klub, kerja sukarela, program komunitas, dan pekerjaan paruh waktu semuanya bisa menjadi contoh yang bermakna dalam sebuah wawancara.

Misalnya, seorang mahasiswa yang membantu menyelenggarakan acara kampus mungkin pada awalnya tidak menganggapnya sebagai sesuatu yang mengesankan. Namun, ketika kita mengurai pengalaman tersebut, mahasiswa itu mungkin menyadari bahwa ia telah mempraktikkan kepemimpinan, kerja sama tim, komunikasi, dan pemecahan masalah. Mahasiswa lain yang menyelesaikan proyek kelompok yang sulit mungkin dapat menjelaskan bagaimana tim mereka menangani perbedaan pendapat, mengatur tenggat waktu, dan menyelesaikan tugas bersama-sama.

Cerita-cerita sederhana ini sangat berarti. Cerita-cerita ini membantu pemberi kerja melihat sosok di balik sertifikat. Cerita-cerita ini tidak hanya menunjukkan apa yang diketahui seorang lulusan, tetapi juga bagaimana lulusan tersebut berpikir, merespons, dan berkontribusi dalam situasi nyata.

Di kelas saya, saya telah menyaksikan bagaimana metode STAR membantu mahasiswa mengenali nilai dari pengalaman mereka sendiri. Metode ini memberi mereka cara yang jelas untuk menyusun gagasan dan berbicara dengan lebih percaya diri. Ketika mereka tahu apa yang harus dikatakan dan bagaimana cara mengatakannya, mereka cenderung tidak panik atau bergantung pada jawaban yang sudah dihafal.

Yang terpenting, saya ingin mahasiswa saya memahami bahwa wawancara bukan tentang memberikan jawaban yang sempurna. Ini tentang memberikan jawaban yang jujur, jelas, dan bermakna. Ini tentang menunjukkan siapa diri mereka, apa yang telah mereka pelajari, dan bagaimana mereka dapat berkontribusi di tempat kerja. Terkadang, yang dibutuhkan lulusan baru hanyalah cara yang tepat untuk menceritakan kisah mereka sendiri.

Pada akhirnya, mendapatkan pekerjaan bukan hanya tentang memiliki keterampilan. Ini juga tentang mengetahui cara mengomunikasikan keterampilan tersebut secara efektif. Bagi para lulusan yang bersiap memasuki dunia kerja, menguasai pendekatan terstruktur ini mungkin menjadi salah satu pelajaran di kelas yang memberikan perbedaan nyata dalam karier mereka di masa depan.

* Nuruladilah Mohamed adalah Dosen Senior di Akademi Pengajian Bahasa (APB), Universiti Teknologi MARA (UiTM), Cawangan Terengganu.

** Ini adalah pendapat pribadi penulis atau publikasi dan tidak serta-merta mewakili pandangan Malay Mail.

Peluang Pasar
Logo edgeX
Harga edgeX(EDGE)
$0.3834
$0.3834$0.3834
-9.18%
USD
Grafik Harga Live edgeX (EDGE)

Kombo Piala Dunia: Target 200x

Kombo Piala Dunia: Target 200xKombo Piala Dunia: Target 200x

Gabungkan hingga 20 pertandingan dalam satu pesanan

Penafian: Artikel yang diterbitkan ulang di situs web ini bersumber dari platform publik dan disediakan hanya sebagai informasi. Artikel tersebut belum tentu mencerminkan pandangan MEXC. Seluruh hak cipta tetap dimiliki oleh penulis aslinya. Jika Anda meyakini bahwa ada konten yang melanggar hak pihak ketiga, silakan hubungi [email protected] agar konten tersebut dihapus. MEXC tidak menjamin keakuratan, kelengkapan, atau keaktualan konten dan tidak bertanggung jawab atas tindakan apa pun yang dilakukan berdasarkan informasi yang diberikan. Konten tersebut bukan merupakan saran keuangan, hukum, atau profesional lainnya, juga tidak boleh dianggap sebagai rekomendasi atau dukungan oleh MEXC.

Saham (Beta) Kini Tersedia

Saham (Beta) Kini TersediaSaham (Beta) Kini Tersedia

Dagang ekuitas AS riil via broker teregulasi