Lulusan Stanford berjalan keluar dari Stadion Stanford pada 14 Juni saat Sundar Pichai membuka pidato wisuda universitas tahun 2026, memprotes kontrak Google dengan pemerintah Israel.
CEO Alphabet dan Google itu lalu sama sekali tidak membahas tentang artificial intelligence. Itu merupakan pilihan yang cukup jelas karena beberapa pemimpin teknologi lain tahun ini justru mendapat cemoohan karena terlalu fokus pada topik tersebut.
Para penggerak aksi dari Stanford Students for Justice in Palestine sudah menyatakan rencana walkout ini sejak beberapa minggu sebelumnya. Mereka menujukan aksi tersebut kepada perusahaan Pichai dan bukan pada kekhawatiran tentang otomatisasi serta pekerjaan.
Mereka memprotes Project Nimbus. Kesepakatan senilai sekitar US$1,2 miliar ini memberikan layanan cloud dan AI dari Google serta Amazon kepada lembaga pemerintahan Israel.
Ikuti kami di X untuk mendapat berita terbaru secara langsung
Kementerian Keuangan Israel mengumumkan perjanjian tersebut pada April 2021. Kontrak ini berlaku selama tujuh tahun pertama serta mencakup pengguna pemerintahan, pertahanan, dan keamanan.
Para pengunjuk rasa menyatakan kontrak ini mendukung pengawasan serta operasi militer di Gaza. Perselisihan ini membuat perlombaan ambisi AI Google tetap terikat pada salah satu titik panas geopolitik.
Pichai, yang memiliki gelar master dari Stanford, mengakui adanya tekanan untuk membahas AI. Dia bergurau bahwa topik itu ada pada dua huruf terakhir di nama belakangnya.
Sebaliknya, dia menawarkan tiga prinsip. Ia menyampaikan kepada para lulusan agar memilih bersikap optimistis, mengerjakan hal-hal sulit, serta melakukan apa yang membuat mereka bersemangat.
Pimpinan Google itu menceritakan perjalanannya dari Chennai dan pengalaman awalnya membangun Chrome.
Penahanannya kali ini berbeda dari sikap biasanya. Pichai selama setahun terakhir aktif mempromosikan visi personalized AI agents miliknya dan agen Mariner bertenaga Gemini dari Google.
Kehati-hatian Pichai mencerminkan situasi penuh ketegangan bagi pembicara bidang teknologi dalam banyak acara wisuda tahun ini. Beberapa pembicara bahkan mendapat cemoohan pada musim semi akibat pernyataan terkait AI dan ancamannya pada lapangan kerja.
Google juga memahami pertarungan soal Nimbus dari dalam. Pada 2024, Google memecat lebih dari dua lusin pekerja yang memprotes kontrak ini, sehingga kampanye No Tech for Apartheid pun semakin besar.
Sorotan sekarang juga mengarah ke kontrak AI pemerintah lain milik Google dan laju pengeluaran AI yang membebani saham Alphabet.
Bagi angkatan 2026, pidato tanpa membahas AI tetap tidak bisa memisahkan Pichai dari kontrak yang memicu para pengunjuk rasa turun ke lapangan.
Beberapa hari ke depan mungkin akan menunjukkan apakah Google akan merespons tekanan baru ini atau justru memilih menunggu situasi reda.
