Departemen Kehakiman Amerika Serikat meminta pengadilan federal untuk menolak gugatan Clean Air Act terhadap xAI, dengan alasan bahwa penutupan turbin gas perusahaan itu bisa mengancam keamanan nasional.
Berkas tersebut mengaitkan data center Colossus 2 milik xAI dengan operasi militer yang sedang berlangsung. Hal ini mengubah sengketa polusi lokal menjadi ujian sampai sejauh mana Washington akan melindungi infrastruktur AI swasta berskala besar.
National Association for the Advancement of Colored People (NAACP) menggugat xAI pada bulan April di bawah Clean Air Act.
Gugatan tersebut menyebutkan bahwa perusahaan itu menjalankan 27 turbin gas tanpa izin yang sesuai untuk memasok listrik ke data center Colossus 2 miliknya di dekat Memphis, Tennessee.
Turbin tersebut berada di Southaven, Mississippi, tepat di seberang perbatasan negara bagian. xAI menyatakan unit-unit itu bersifat sementara dan dipasang di atas trailer, interpretasi yang awalnya diterima regulator negara bagian sebelum mengeluarkan izin pada bulan Maret.
Ini adalah sengketa kedua yang serupa. Di lokasi Colossus asli di South Memphis, xAI pernah mengoperasikan hingga 35 turbin tanpa izin, lalu memangkas jumlahnya dan mengantongi lisensi untuk 15 turbin setelah ada tekanan hukum pada 2025.
Pengacara lingkungan hidup menyebutkan bahwa pabrik Southaven berpotensi mengeluarkan lebih dari 1.700 ton nitrogen oksida pembentuk kabut asap setiap tahun, ditambah partikel halus dan formaldehida yang bersifat karsinogenik.
Mereka memperingatkan bahwa beban polusi ini menimpa lingkungan mayoritas kulit hitam yang memang sudah hidup dengan kualitas udara buruk, dan mereka meminta pengadilan untuk menghentikan operasional serta memberikan sanksi.
Pada hari Senin, Departemen Kehakiman turun tangan dan bergabung dengan xAI bersama negara bagian Mississippi untuk meminta pembatalan gugatan. Berkas tersebut menyebutkan bahwa menghentikan turbin tersebut bisa mengancam keamanan nasional, ekonomi, dan energi Amerika Serikat.
Cameron Stanley, kepala digital dan AI Departemen Pertahanan, menyerahkan sebuah pernyataan resmi bahwa model AI Grok adalah satu dari hanya empat model yang mendapatkan izin untuk jaringan Secret dan Top Secret.
Dia mengaitkannya dengan operasi militer Amerika Serikat belakangan ini, termasuk serangan terhadap Iran.
Langkah ini selaras dengan kebijakan pemerintahan Trump yang ingin mempertahankan dominasi Amerika di bidang AI. Pejabat pemerintah mendorong agar pembangunan data center dipercepat seiring permintaan energi dari model-model besar yang terus meningkat.
Pihak yang mengkritik menganggap langkah ini berbahaya sebagai preseden. Mereka berpendapat bahwa melabeli infrastruktur swasta sebagai aset keamanan nasional bisa membuat perusahaan AI lain menghindari aturan lingkungan dan lokal. Pendukungnya menanggapi bahwa keterlambatan regulasi justru memberi jalan bagi Cina.
Kasus ini memiliki dampak lebih luas dari sekadar xAI. SpaceX mengakuisisi xAI pada Februari dalam kesepakatan saham senilai sekitar US$1,25 triliun, yang menjadi merger terbesar sepanjang sejarah.
Dengan demikian, Grok, data center Colossus, dan turbin-turbin tersebut kini menjadi satu perusahaan, sehingga posisi Departemen Kehakiman menjadi sangat relevan bagi SpaceX.
Dukungan federal semakin memperkuat posisi pertahanan dan AI SpaceX hanya beberapa minggu setelah debut publik bersejarah. SpaceX mengumpulkan sekitar US$75 miliar dalam IPO terbesar yang pernah ada dan menetapkan harga mendekati US$1,77 triliun.
Intervensi ini dapat memberi sentimen bullish pada SPCX, yang perdagangannya meningkat jauh di atas harga pembukaan IPO sebesar US$150.
Risiko masih belum hilang.
SpaceX masih menghadapi gugatan sengketa gangguan lain terkait lokasi yang sama, dan inti tuntutan lingkungan juga belum terselesaikan. Dilaporkan bahwa sidang awal permintaan penghentian sementara akan digelar pada bulan Agustus, sehingga hasil akhirnya masih terbuka.

