Kredit digital menghadapi ujian stres nyata pertamanya minggu ini, ketika saham preferen STRC milik MicroStrategy anjlok—hal ini memicu kritik yang menyatakan bahwa kelas aset berbasis Bitcoin tersebut telah mati.
Bitcoin (BTC) sendiri telah berkali-kali menghadapi prediksi akhir serupa sebelumnya. Data on-chain kini menunjukkan hal berbeda, karena aktivitas jaringan naik ke level tertinggi dalam beberapa tahun terakhir, meskipun harga tengah turun.
Kredit digital adalah kelas sekuritas penghasil pendapatan yang usianya masih muda serta didukung oleh Bitcoin. Perusahaan yang memiliki cadangan Bitcoin besar menerbitkan produk-produk terstruktur seperti saham preferen dan convertible note.
Mereka menggunakan dana hasil penjualan produk tersebut untuk membeli lebih banyak Bitcoin. Tujuannya sangat jelas. Kenaikan harga BTC jangka panjang diharapkan mampu melampaui dividen dan bunga yang harus dibayarkan produk itu.
Strategy, yang dulu bernama MicroStrategy, menjadi contoh paling nyata lewat saham preferen STRC miliknya. STRC memiliki nilai nominal US$100 dan menawarkan yield tinggi yang bervariasi, mendekati 12% per tahun.
Ketika harga saham diperdagangkan sama atau lebih tinggi dari nilai nominal, Strategy menerbitkan lebih banyak saham dan menginvestasikan dana hasilnya ke Bitcoin. Mekanisme itulah yang mengubah permintaan STRC menjadi Bitcoin di neraca perusahaan.
Strategy menjelaskan semua konsep tersebut dengan sederhana. Mereka menyebut bitcoin sebagai modal digital, STRC sebagai kredit digital, dan saham biasa sebagai ekuitas digital. Konsep ini menarik minat investor yang fokus pada pendapatan serta ingin mendapatkan eksposur Bitcoin tanpa harus memegang koinnya langsung.
Mereka bisa mendapatkan yield stabil, sementara Strategy yang menanggung risiko fluktuasi harga.
Convertible note dan produk preferen lainnya menggunakan logika serupa. Setiap produk itu meminjam dengan menjaminkan potensi kenaikan Bitcoin di masa depan, untuk membeli lebih banyak BTC hari ini.
Selama tahun 2025 sampai 2026, instrumen-instrumen ini menjadi sumber utama permintaan baru untuk Bitcoin. Permintaan yang berasal dari STRC mampu membiayai pembelian Bitcoin lebih banyak daripada exchange-traded fund (ETF) spot pada periode yang sama.
Para kritikus minggu ini menyatakan kredit digital sudah mati, dan ada sebagian kritik yang memang tepat. STRC dipasarkan sebagai cara mendapat eksposur Bitcoin dengan volatilitas yang lebih rendah.
Namun, nyatanya harga STRC turun di bawah nilai nominal. Saham preferen itu anjlok ke level terendah intraday di kisaran US$82, atau turun sekitar 18% dari US$100.
Ada beberapa tekanan yang datang bersamaan. Kelas aset ini baru berumur kurang dari setahun, posisi leverage pada STRC sedang dibuka ketika harga Bitcoin sedang membentuk titik terendah. Modal juga bersaing dengan listing AI dan antrian IPO yang padat.
Pola ini juga terlihat lebih luas di pasar. Total value locked secara keseluruhan di Decentralized Finance (DeFi) turun dari sekitar US$170 miliar pada Oktober 2025 menjadi sekitar US$72 miliar saat ini.
Penurunan tersebut lebih dari 55% dan menandakan arus keluar dari risiko yang cukup besar. Tekanan jual pada STRC juga tidak terjadi sendirian. Struktur mekanismenya pun memperparah situasi. Karena harga STRC di bawah nilai nominal, Strategy menghentikan penjualan saham baru lewat program pasar mereka.
Hal itu membatasi kemampuan mereka untuk terus membeli Bitcoin, padahal itu adalah mesin utama di balik model bisnis mereka. Dividen variabel yang lebih tinggi, yang seharusnya membela nilai nominal, kini justru dipandang sebagai isyarat kegentingan, bukan lagi sebuah hadiah.
Saham preferen pesaing yang menawarkan hasil lebih tinggi juga menarik modal keluar dari STRC. Semua faktor inilah yang membuat para kritikus menyebut kredit digital telah mati. Tapi, anggapan itu sepertinya terlalu dini. Analis @therationalroot menilai bahwa kemungkinan gagal di sini sangat kecil.
Strategy masih punya cukup kas untuk membayar dividen minimal tujuh bulan ke depan. Cadangan Bitcoin mereka bahkan bisa membiayai pembayaran itu hingga beberapa dekade ke depan.
Namun pasar tetap terguncang karena satu tindakan. Pada akhir Mei, Strategy menjual sedikit Bitcoin untuk mendanai distribusi STRC untuk pertama kalinya. Penjualan itu sebenarnya sangat kecil dibandingkan total kepemilikan mereka. Namun langkah ini memicu kekhawatiran bahwa model bisnis tersebut akan bergoyang jika harga Bitcoin jatuh drastis.
Inilah penurunan nyata pertama untuk kelas aset yang baru berusia sekitar satu tahun. Bitcoin sendiri sudah tidak terhitung berapa kali mendapat prediksi kematian seperti itu setiap kali bear market terjadi, dan selalu kembali menguat setiap kalinya.
Ketika kredit digital mendapat banyak tekanan, jaringan Bitcoin justru terlihat jauh dari kata mati. Network Activity Index milik CryptoQuant menembus tren naik untuk pertama kalinya sejak pertengahan 2024.
Indeks tersebut terus naik sejak Januari 2026 dan tetap berada di atas tren sejak akhir Maret. Hal ini menunjukkan adanya perbedaan jelas: aktivitas jaringan naik meski harga jatuh.
Indeks ini mengukur seberapa intens chain digunakan, mulai dari volume transaksi hingga aktivitas alamat. Angka di atas tren mengindikasikan ekspansi nyata, bukan jaringan yang sepi.
Jumlah transaksi harian dan rata-rata transaksi per block keduanya berada di dekat rekor tertinggi. Namun, detailnya menampilkan sisi menarik lain.
Transaksi di bawah 0,01 BTC kini menyumbang sekitar 80% dari aktivitas harian, naik dari kurang dari 50% pada tahun 2023. Peningkatan ini sebagian besar berasal dari penggunaan OP_RETURN yang terkait dengan Runes dan Ordinals inscriptions.
OP_RETURN memungkinkan pengguna menambahkan data kecil ke dalam transaksi yang sangat dibutuhkan oleh proyek token dan inscription. Cara ini menghasilkan volume transaksi bernilai rendah dalam jumlah besar, bukan transfer ekonomi bernilai besar.
Pembeda itu penting dalam membaca lonjakan transaksi ini. Chain yang sibuk belum tentu berarti lebih banyak nilai ekonomi yang berpindah.
Mempool mengalami lonjakan jumlah transaksi tertinggi sejak akhir Februari 2025. Kepadatan transaksi ini umumnya terjadi pada kelompok biaya rendah.
Aktivitas non-finansial yang terus-menerus bisa saja menaikkan biaya transaksi ekonomi seiring waktu. Tapi, sinyal utamanya tetap jelas, dan chain Bitcoin saat ini lebih sibuk daripada beberapa tahun terakhir. Michael Saylor juga pernah menyampaikan argumen serupa tentang permintaan yang tetap kuat.
Harga Bitcoin berada di kisaran US$62.400, turun sekitar 3% dalam satu hari dan masih jauh dari harga tertingginya. Digital credit dan jaringan Bitcoin sama-sama pernah dianggap sudah usang sebelumnya.
Waktunya berbicara. Keraguan terhadap digital credit makin nyaring justru ketika saham preferen milik Strategy turun di bawah harga par.
Data on-chain memperlihatkan gambaran berbeda dari pesimisme tersebut. Jaringan yang sangat aktif jarang mencerminkan aset yang sedang sekarat. Kesenjangan antara harga dan penggunaan menjadi ketegangan utama yang harus diperhatikan. Biasanya, penurunan harga dan lonjakan aktivitas tak akan bertahan lama bersamaan.
Data menunjukkan keduanya masih punya tanda-tanda kehidupan. Apakah STRC akan kembali ke harga par dan aktivitas jaringan terus naik, itu akan menentukan apakah momen ini menandakan titik terendah atau justru peringatan baru.
