Leverage dana lindung nilai global kini mendekati level tertinggi dalam beberapa tahun terakhir. JPMorgan memperkirakan rebalancing akhir kuartal bisa memicu aksi jual saham senilai US$165 miliar sebelum Juni berakhir, sehingga meningkatkan risiko pergerakan tajam pada saham teknologi yang sedang ramai diminati.
Peringatan ini datang dari Goldman Sachs dan JPMorgan, dua institusi besar di pasar saham. Keduanya menyoroti risiko yang sama, yaitu posisi leverage dan konsentrasi yang tinggi bisa memperparah koreksi begitu aksi jual mekanis dimulai.
Data prime brokerage Goldman Sachs memantau kenaikan leverage selama lebih dari setahun terakhir. Gross leverage dana lindung nilai mencapai sekitar 294% pada Juni 2025, tertinggi dalam lima tahun terakhir, lapor Reuters.
Sebuah catatan dari trader Goldman, Lee Coppersmith, yang beredar bulan ini, menyebutkan net leverage kini mencapai posisi tertinggi dalam empat tahun terakhir.
Strategi JPMorgan, Nikolaos Panigirtzoglou, mempertegas kekhawatiran ini. Ia mewanti-wanti bahwa posisi yang terlalu banyak terkonsentrasi pada sektor semikonduktor membuat risiko aksi jual makin sering terjadi.
Guncangan value-at-risk bisa terjadi jika volatilitas melampaui batas internal yang sudah ditentukan oleh dana-dana tersebut dan memaksa mereka untuk jual aset.
Timnya menghitung porsi nilai ekuitas global dari sektor semikonduktor kini sudah enam kali lipat dari porsi pendapatan mereka. Angka ini lebih dari dua kali lipat perbandingan pada Magnificent Seven.
Konsentrasi ini membuat reli saham AI rentan jika sentimen investor berubah.
Pemicunya secara jangka pendek adalah mekanis. JPMorgan memperkirakan rebalancing akhir kuartal bisa mendorong aksi jual saham hingga US$165 miliar saat Juni berakhir. Investor besar melakukan pengurangan porsi saham setelah reli panjang.
Dana Pensiun Pemerintah Jepang sebesar US$1,9 triliun menjadi penjual tunggal terbesar dengan jumlah sekitar US$60 miliar.
Dana pensiun AS berkontribusi sekitar US$55 miliar, sedangkan dana Norwegia dan Swiss menambah puluhan miliar lagi. Sementara itu, reksa dana campuran menyeimbangkan dengan aksi beli sekitar US$15 miliar.
Aksi jual ini turut mempengaruhi pasar yang sudah waspada. Di bawah kepemimpinan Kevin Warsh, The Fed bulan ini menahan suku bunga dan memberi sinyal kemungkinan kenaikan tahun ini.
Sikap hawkish The Fed ini membuat ekspektasi pemangkasan suku bunga bergeser dan meningkatkan volatilitas.
Kerapuhan ini menjalar ke Bitcoin (BTC). JPMorgan menggarisbawahi bahwa hash rate Bitcoin kini makin sensitif terhadap harga.
Hal ini menandakan makin banyak Bitcoin miner yang beroperasi di ambang impas, sehingga menambah daerah rawan di pasar kripto.
Bitcoin diperdagangkan di kisaran US$63.620, dengan nilai pasar sekitar US$1,28 triliun. Harganya turun ke kisaran US$60.000 dalam beberapa minggu terakhir.
Saat ini, token tersebut diperdagangkan lebih mirip saham teknologi daripada sebagai aset safe haven. Harganya ikut melemah ketika hasil FOMC dan laporan keuangan AI mengguncang pasar.
Jika aksi jual saham secara paksa bertabrakan dengan leverage yang tinggi dan taruhan besar pada AI, volatilitas lintas aset bisa meningkat sampai akhir bulan.
Apakah pasar dapat menyerap arus jual tersebut atau justru memperbesar dampaknya, akan sangat menentukan arah pergerakan saham dan kripto sepanjang pekan ini.


