Harga XRP (XRP) telah turun 50% selama setahun terakhir, meskipun aktivitas di jaringan tersebut terus meningkat mendekati rekor tertinggi. Arus besar uang yang masuk ke aktivitas ini mungkin menjadi salah satu alasan mengapa harga XRP masih sulit untuk pulih.
Pendorong utama fenomena ini adalah RLUSD, stablecoin Ripple, yaitu token yang dibuat agar nilainya tetap stabil di kisaran satu dolar AS. Token ini menarik uang baru ke dalam jaringan, sehingga memperdalam kolam tempat XRP diperdagangkan, tetapi tidak banyak meningkatkan permintaan terhadap token XRP itu sendiri. Pergeseran ini kini menjadi topik yang sering muncul dalam berita Ripple terkini.
Untuk memahami mengapa harga XRP turun meskipun jaringannya berkembang, mari kita cermati satu perbedaan pada data. Selama sebagian besar dua tahun terakhir, aktivitas on-chain bergerak seirama dengan harga. Penggunaan jaringan meningkat saat harga reli dan menurun saat terjadi penjualan besar, dan korelasi tersebut terbukti dari data di periode itu.
Ingin dapat wawasan token seperti ini? Daftar untuk menerima Newsletter Harian Kripto Editor Harsh Notariya di sini.
Aktivitas di decentralized exchange (DEX) jaringan ini, yaitu marketplace yang menyelesaikan perdagangan langsung di on-chain tanpa perantara terpusat, punya korelasi sekitar +0,6 dengan harga.
Ada satu metrik yang keluar dari pola ini. Likuiditas yang tersimpan di kolam automated market maker (AMM) hampir tidak memiliki kaitan positif dengan harga, dan belakangan justru bergerak berlawanan arah.
AMM memungkinkan orang berdagang melawan sebuah kolam dana bersama, bukan dengan trader lain, sehingga ukuran dana tersebut menunjukkan besarnya modal yang dikunci, bukan sekadar spekulasi harian. Perbedaan inilah yang jadi awal kisah berikutnya.
Sepanjang 2026, harga XRP terus menurun secara konsisten, turun sekitar 22% dalam dua bulan terakhir. Saat ini, harga XRP berada di titik terlemahnya dalam setahun—penurunan yang mendominasi berita XRP terkini. Namun, likuiditas di kolam AMM justru mengalami hal sebaliknya. Total value locked (TVL), yaitu total nilai seluruh dana yang tersimpan di kolam AMM, bahkan lebih dari tiga kali lipat dalam periode yang sama. Uang terus masuk walaupun harga token turun.
Volume DEX asli di jaringan juga menunjukan kecenderungan yang sama. Aktivitas trading harian di decentralized exchange on-chain pada 2026 tercatat sekitar tiga kali lebih tinggi dibanding rata-rata tahun 2024, naik terus meski harga menurun. Pertumbuhan ini jelas bukan karena faktor acak, melainkan berasal dari satu aset yang masuk ke jaringan dalam jumlah besar.
Sekarang, RLUSD menjadi jangkar di kolam AMM terbesar kedua di jaringan ini, dengan hanya satu kolam yang memiliki XRP lebih banyak. Jejak RLUSD pun sangat besar di jaringan.
Pasokan RLUSD di jaringan saat ini mendekati US$785 juta yang dimiliki oleh sekitar 45.500 holder, setelah nilainya melonjak hampir 30% hanya dalam satu bulan.
Cara masuknya pasokan tersebut juga penting. Selama sebulan, pasokan RLUSD naik hampir 30%. Akan tetapi, jumlah holder-nya nyaris tidak bertambah, hanya naik kurang dari 1% dalam periode yang sama. Jadi, uang segar justru mengalir masuk ke wallet yang sudah ada atau hanya ke segelintir wallet, bukan ke basis holder baru yang luas.
Pertumbuhan ini nampaknya menjadi alasan lonjakan likuiditas, sebab pasangan dolar yang dalam dan teregulasi memberi trader cara stabil untuk keluar masuk XRP. Meski demikian, data ini juga membawa peringatan tersendiri.
Sekitar 82% RLUSD hanya berada di 10 wallet teratas, jadi jumlah holder masih sangat sedikit dan terpusat. Kondisi ini juga menimbulkan pertanyaan lebih sulit tentang harganya.
Di sinilah kedua sisi cerita saling bertemu. Lonjakan likuiditas belum berhasil menarik gelombang pembeli baru, dan trader aktif maupun pengguna AMM masih naik turun mengikuti harga. Ini menandakan bahwa pertumbuhan yang terjadi lebih menggambarkan likuiditas dan penyelesaian transaksi, bukan permintaan spekulatif baru terhadap token tersebut.
Hal ini menunjukkan ada risiko nyata bagi token tersebut. Jika bank dan perusahaan justru melakukan settlement nilai langsung dengan RLUSD, mereka bisa jadi tidak pernah perlu punya atau membeli XRP untuk memindahkan dana di jaringan. Stablecoin bisa membanjiri jaringan dengan dolar, sambil secara diam-diam bersaing dengan native asset-nya sendiri. Data sejauh ini juga menunjukkan hal tersebut. Pool aset memang makin penuh, tapi permintaan XRP tidak mengikuti. Sementara itu, trader derivatif malah mengambil posisi yang sebaliknya, bertaruh harga akan naik lagi.
Taruhan ini terlihat di pasar Futures. Open Interest XRP, yaitu total nilai kontrak futures yang masih aktif, berada di sekitar US$3,45 miliar di 125 exchange perpetual. Ini menjadi eksposur besar di saat market sedang tren turun, dan mayoritas posisinya berpihak long, artinya para trader bertaruh harga akan naik. Funding rate, yaitu biaya berulang yang saling dibayarkan antara posisi long dan short agar posisi tetap dibuka, tetap positif di sebagian besar exchange. Funding rate positif menandakan long membayar short, tanda bahwa taruhan bullish mendominasi pasar.
Beberapa exchange justru menampilkan kondisi sebaliknya, di mana short yang membayar long, jadi keyakinan pasar cukup kuat tetapi tidak mutlak di semua platform. Inilah ketegangan yang mendasari harga XRP. Di on-chain, dolar stablecoin terus membanjiri jaringan tanpa menaikkan permintaan token. Tetapi di pasar futures, trader masih rutin bertaruh akan reli, yang risiko koreksi panjangnya mungkin lebih tinggi jika ternyata harga long terkena flush.
Saat ini, setiap prediksi harga XRP bergantung pada apakah likuiditas ini pada akhirnya akan berubah menjadi permintaan nyata untuk XRP. Itu memang bisa secara mekanis terjadi. Pool terbesar RLUSD dipasangkan dengan XRP, dan jaringan kerap melewati XRP sebagai jembatan pembayaran. Jadi, makin besar penggunaan stablecoin justru bisa membawa lebih banyak XRP ke dalam pool dan transfer.
Pertanyaan serupa juga membayangi proyeksi Ripple ke depan yang hanya mengandalkan pertumbuhan jaringan. Hanya satu hasil yang benar-benar membedakan antara pemulihan nyata dan penurunan pelan berikutnya.


