KUCHING, 28 Juni — Bagi banyak keluarga, menemukan makanan yang bergizi sekaligus sesuai dengan kebutuhan diet tertentu bisa menjadi tantangan sehari-hari.
Seiring meningkatnya kesadaran akan intoleransi gluten dan sensitivitas gula di kawasan Asia Pasifik, semakin banyak konsumen yang mencari alternatif yang terasa lebih aman, lebih sederhana, dan lebih cocok untuk kesejahteraan jangka panjang.
Pasar bebas gluten regional diproyeksikan mencapai US$3,2 miliar (pada kurs saat ini, RM13,2 miliar) pada tahun 2030, dengan pertumbuhan tahunan antara 6,7 persen hingga 12,1 persen.
Di Malaysia, pergeseran ini juga beriringan dengan meningkatnya fokus kesehatan masyarakat pada pengurangan asupan gula dan perbaikan pola makan sehari-hari.
Survei Kesehatan dan Morbiditas Nasional 2023 menunjukkan bahwa 15,6 persen orang dewasa Malaysia hidup dengan diabetes, sementara 54,4 persen kelebihan berat badan atau obesitas.
Dalam konteks tersebut, bahan makanan pokok yang sudah lama dikenal mulai terlihat berbeda.
Lama dikenal secara lokal sebagai 'ubi kayu', singkong memiliki akar yang dalam dalam budaya pangan Malaysia, termasuk sebagai makanan pengganjal perut dan pengganti beras di masa kekurangan pangan pada Perang Dunia 2.
Kini, singkong kembali muncul sebagai bahan yang ramah alergen yang dikaitkan dengan prebiotik dan pati resisten, sehingga semakin relevan dalam pembahasan mengenai alternatif makanan yang lebih sehat.
Segmen tepung singkong termodifikasi (mocaf) domestik Malaysia bernilai sekitar RM14,95 juta dalam produk roti dan kue, didukung oleh inovasi usaha kecil dan menengah (UKM) serta minat yang tumbuh terhadap ketahanan pangan.
Di kawasan ini, salah satu respons sedang terbentuk di Siak, Riau, Indonesia, di mana sebuah usaha kecil bernama Telarasa mengubah singkong lokal menjadi produk makanan yang lebih sehat, sekaligus menciptakan permintaan yang lebih stabil bagi petani dan nelayan desa.
Wibowo Nugroho, 33 tahun, tidak mendirikan Telarasa dengan rencana bisnis yang besar.
Ia mendirikannya karena anaknya memiliki sensitivitas berat terhadap gluten dan gula, dan sulit menemukan pilihan makanan yang aman.
Saat mencari solusi di rumah, ia menyadari bahwa orang tua lain di sekitarnya menghadapi kekhawatiran serupa, termasuk keluarga yang merawat anak-anak berkebutuhan khusus seperti ADHD.
"Awalnya, ini benar-benar untuk keluarga kami sendiri," ujar Wibowo.
"Anak kami membutuhkan makanan yang aman, dan ternyata banyak orang tua di sekitar yang merasakan kekhawatiran yang sama."
Pada saat yang sama, ia memperhatikan sesuatu yang lain di dekat rumahnya.
Banyak warga Siak yang menanam singkong di kebun rumah kecil, seringkali tanpa pupuk kimia atau pestisida.
Sekitar 90 persen singkong di daerah tersebut dianggap bebas pestisida; namun tanpa rantai pasokan yang jelas, sebagian besar hanya dibiarkan di dalam tanah.
"Singkongnya ditanam, tapi akhirnya dibiarkan di kebun," kata Wibowo.
"Warga bingung mau dijual ke mana."
Kesenjangan itulah yang menjadi titik awal Telarasa.
Berawal dari penelitian dapur skala kecil, usaha ini perlahan berkembang menjadi nugget singkong, tepung mocaf sebagai pengganti terigu, kukis rendah gula, dan 'lekit lomek', sebuah produk yang menggabungkan mocaf dengan 'lomek' (Harpodon nehereus), jenis ikan payau yang selama ini kurang diminati karena kadar airnya yang tinggi.
Dengan demikian, Telarasa tidak hanya menciptakan pilihan makanan yang lebih sehat, tetapi juga membuka sumber nilai baru bagi nelayan lokal.
Saat ini, Telarasa menyerap sekitar 200 kg hingga 250 kg singkong per bulan, dengan produksi yang disesuaikan secara bertahap untuk memenuhi permintaan dan menghindari tekanan yang tidak perlu bagi para petani.
Usaha ini memasuki fase baru setelah bergabung dengan Sentra Kreatif Lestari Siak (Skelas) – sebuah program inkubasi melalui Inkubasi Bisnis Berkelanjutan Siak (Kubisa) dan Siak Innovation Challenge.
Selama enam bulan, bisnis ini mendapatkan bimbingan mengenai keamanan pangan, pengemasan, keuangan, dan pemasaran, beserta akses ke jaringan bisnis yang lebih luas.
Salah satu hasilnya adalah terjalinnya koneksi yang semakin erat dengan komunitas makanan sehat seperti Dapur Mempura, yang kini menggunakan mocaf Telarasa untuk membuat 'Bolu Komojo' khas Siak.
Inkubasi ini juga membantu mempertajam pendekatan zero-waste Telarasa.
Kulit dan inti singkong dikompos, daun muda dijual atau dikonsumsi, daun tua menjadi pakan ternak, dan sisa ampas tepung digunakan sebagai pakan ayam.
Apa yang dulunya mungkin dibuang kini kembali masuk ke dalam siklus lokal.
Bagi Cerli Febri Ramadani, perwakilan dari Skelas, inilah saatnya bisnis menjadi lebih dari sekadar produk itu sendiri.
"Bisnis seperti ini membuktikan bahwa pemulihan ekonomi bisa berjalan beriringan dengan pemulihan lingkungan dan penguatan komunitas lokal."
Perubahan itu mulai terlihat pula dalam segi finansial.
Penghasilan bulanan, yang dulu di bawah satu juta rupiah (sekitar RM230), kini telah naik menjadi sekitar 1,5 juta hingga dua juta rupiah (RM348–RM465) dalam dua bulan terakhir.
Dampaknya juga dirasakan di luar Telarasa. Petani singkong lokal kini memiliki pembeli yang lebih stabil, sementara permintaan akan produk berbahan lomek menciptakan peluang baru bagi nelayan dan dapur mitra.
Namun bagi Wibowo, tujuan yang lebih besar tetap sederhana – agar bisnis tumbuh, menyerap lebih banyak singkong dan hasil laut lokal, menciptakan lapangan kerja, serta tetap berkomitmen pada kesehatan dan lingkungan.
"Jika semua itu bisa berjalan bersama, berarti kita sudah berada di jalur yang benar."
Di Siak, singkong bukan lagi sekadar tanaman sederhana atau kenangan masa sulit.
Melalui Telarasa, singkong kini menjadi sesuatu yang lebih penuh harapan: pilihan makanan yang lebih sehat, sumber penghasilan lokal, dan bukti bahwa kekhawatiran keluarga kecil terkadang bisa tumbuh menjadi manfaat bagi komunitas yang lebih luas.
Skelas adalah sebuah tempat sekaligus forum bagi anak-anak muda kreatif untuk mengekspresikan ide-ide guna mengeksplorasi potensi unggulan Kabupaten Siak dengan tetap menjaga keberlanjutan alamnya.
Saat ini, Skelas telah membimbing 26 usaha dari berbagai sektor seperti fashion, usaha kuliner, dan layanan pendidikan.
Skelas terus beroperasi untuk mendukung visi 'Green Siak' dalam mencapai target 1.000 usaha mikro-UKM per tahun, dan meningkatkan usaha ekonomi kreatif sebagai bagian dari rencana Indikator Kinerja Pembangunan Daerah pemerintah Kabupaten Siak. — The Borneo Post
* Artikel ini berkaitan dengan Hari Singkong Sedunia, yang diperingati setiap tahun pada 28 Juni.


