Pendiri Kampung Adat Melayu Seri Banian, Akhiri Rijalludin, ingin melestarikan budaya dan nuansa pemukiman Melayu berusia berabad-abad. (Foto Bernama)
PENDANG: Tersembunyi di ujung Kampung Bendang Bukit, terdapat sebuah desa warisan budaya di mana pengunjung dapat melintasi waktu dan merasakan kehidupan sebagaimana adanya pada era Kesultanan Melayu.
Kampung Adat Melayu Seri Banian – atau Desa Adat Melayu Sri Banian – sengaja dibangun agar tampak usang dan tidak tersentuh pengaruh modern.
Rumah-rumah tradisional, bahan bangunan alami, dan kegiatan budaya berpadu menciptakan suasana pemukiman Melayu berusia berabad-abad.
Pendiri Akhiri Rijalludin mengatakan gagasan ini terbentuk setelah bertahun-tahun berkeliling sebagai instruktur silat ke Indonesia, Thailand, dan Filipina, di mana desa-desa tradisional telah dilestarikan sebagai pengingat hidup warisan lokal.
Terinspirasi oleh pengalaman-pengalaman tersebut, ia bertekad menciptakan ruang serupa di Malaysia yang akan menampilkan adat istiadat, budaya, dan cara hidup masyarakat Melayu pada abad ke-15.
"Desa ini sengaja dibiarkan tampak tua karena kami ingin menghindari unsur-unsur modern. Untuk mencapai suasana yang ada saat ini membutuhkan hampir dua tahun," ujarnya kepada Bernama.
Dibangun di atas lahan seluas 1,62 hektare milik ayah angkatnya, proyek ini dimulai pada 2019 menggunakan bahan-bahan alami seperti bambu, kayu hutan, kayu cenderai, dan atap daun nipah yang bersumber dari kawasan sekitar.
Sejauh ini, sekitar 10% lahan telah dikembangkan dengan biaya antara RM500.000 hingga RM600.000.
Rumah-rumah di desa ini dibangun menggunakan bahan alami seperti bambu, kayu cenderai, dan daun nipah. (Foto Bernama)
Desa ini saat ini memiliki lima rumah tradisional dan sebuah kolam, dengan rencana penambahan kolam mandi, balai menghadap kerajaan dan balai nobat, area tenun, serta sebuah istana kecil.
Akhiri mengatakan nama "Seri Banian" melambangkan sebuah desa yang tenang. "Kata 'seri' berarti bercahaya, sementara 'ban' dalam bahasa Siam berarti desa, dan 'nian' merujuk pada lingkungan yang hijau, indah, dan damai."
Selain arsitektur tradisionalnya, Seri Banian berfungsi sebagai tempat kegiatan budaya yang diselenggarakan oleh anggota Persatuan Ukhwah Seri Banian.
Pengunjung dapat menikmati demonstrasi silat, pertunjukan tari, musik tradisional dan nyanyian, terutama saat liburan sekolah.
Makanan menjadi daya tarik utama lainnya: Akhiri mengatakan keluarganya menyimpan sebuah buku resep lama yang berisi sekitar 300 resep leluhur. Dari 473 hidangan tradisional dalam koleksi mereka, 121 ditawarkan kepada pengunjung.
Hidangan favorit antara lain arnab rica-rica, burung puyuh bakar, ayam sembah diraja, nasi bebek panggang, sate Seri Banian, dan pulut Seri Banian – semuanya disiapkan berdasarkan resep keluarga yang diwariskan turun-temurun.
Demonstrasi silat termasuk di antara kegiatan budaya yang dapat dinikmati pengunjung di desa warisan budaya ini. (Foto Bernama)
Meski lokasinya terpencil, desa ini telah menarik tamu dari Prancis, Selandia Baru, Rusia, Korea Selatan, Libya, dan Thailand.
Bagi Akhiri, Seri Banian lebih dari sekadar proyek pariwisata. "Jika kita tidak melestarikan budaya ini, suatu saat nanti mungkin hanya akan ada di dalam buku-buku," ujarnya.
"Saya ingin orang-orang datang dan melihat sendiri bagaimana masyarakat Melayu hidup di masa lalu, agar warisan ini terus dihargai."


