Cryptoharian – Bitcoin (BTC) mungkin terlihat lemah di permukaan, namun menurut model kuantitatif dari seorang influencer X dengan nama akun BTCAnalytica, posisinya justru berada di fase yang secara historis sering menjadi awal pergerakan besar.
Model yang digunakan, yakni Empiris Quantile Model (EQM) tidak mencoba menebak harga ke depan. Fokusnya lebih sederhana, yakni menunjukkan posisi Bitcoin dalam siklus pasar, apakah sedang mahal, murah atau netral.
EQM hanya menggunakan satu input, yakni harga diri. Dari situ, model membangun indikator resiko dalam skala 0 persen dan 100 persen. Tidak ada data on-chain, tidak ada makro dan tidak bergantung pada banyak variabel lain.
Hasilnya adalah indikator yang bersifat adaptif dan diperbarui setiap hari.
Dalam 12 tahun terakhir, pola yang terbentuk cukup konsisten. Puncak siklus selalu terjadi saat resiko berada di atas 85 persen, sementara dasar pasar terbentuk ketika resiko turun di bawah 15 persen.
Berdasarkan data dari model tersebut, rekam jejak BTC yakni:
Baca Juga: Bitcoin Hadapi Titik Penentu Kuartal, Bagaimana Pandangan Analis?
Saat ini, Bitcoin diperdagangkan di sekitar US$ 68.800, sementara fair value versi model berada di kisaran US $99.250.
Artinya, harga masih sekitar 30 persen di bawah nilai wajarnya.
Di saat yang sama, level risiko berada di 27.6 persen. Angka ini menempatkan Bitcoin di zona akumulasi, area yang dalam siklus sebelumnya sering muncul sebelum reli besar dimulai.
Dengan kata lain, secara statistik, kondisi saat ini lebih dekat ke fase pembentukan dasar dibanding puncak.
Model ini juga menyajikan beberapa komponen tambahan, seperti price bands, indikator trend, hingga skor akumulasi. Namun pesan utamanya tetap sederhana.
Ketika resiko rendah dan harga berada di bawah fair value, pasar biasanya sedang dalam fase pengumpulan, bukan distribusi.
Kendati demikian, ini bukan berarti harga tidak bisa turun lebih jauh. Model ini tidak memberi timing pasti, hanya memberikan konteks posisi dalam siklus.


