Futures S&P 500 turun 0,5% pada Rabu, 3 Juni, setelah indeks tersebut melemah 0,74% selama sesi perdagangan, menandai berakhirnya reli sembilan hari beruntun untuk saham Amerika Serikat.
Futures Nasdaq 100 turun 0,7%. Dow Jones kehilangan 620 poin pada hari itu, mencatat penurunan satu sesi terburuk dalam beberapa pekan terakhir.
Pemicu kejatuhan berasal dari isu geopolitik ketika Iran menyerang Bandara Internasional Kuwait pada Rabu pagi. Satu hari sebelumnya, Komando Pusat AS memastikan telah mencegat beberapa rudal balistik dan drone Iran sebelum melakukan serangan bela diri di Pulau Qeshm, Teluk Persia.
Harga minyak melonjak akibat kabar tersebut. Saham sektor energi menjadi satu-satunya sektor yang ditutup menguat pada Rabu, naik sebesar 1,38%.
Saham teknologi justru mengalami tekanan jual terbesar, turun 1,52%. Saham Broadcom anjlok 13% setelah pendapatan di bawah ekspektasi dan CrowdStrike juga turun 10% akibat proyeksi yang lemah, sehingga memperburuk kondisi pasar.
Keith Lerner, CIO di Truist Wealth, menilai koreksi ini sudah waktunya terjadi dan bukan sesuatu yang mengkhawatirkan.
Bagi holder aset kripto, sesi perdagangan malam membawa dampak lebih besar.
Harga Bitcoin turun hingga ke level US$61.000 setelah ketegangan militer antara Amerika Serikat dan Iran, sehingga memicu likuidasi sekitar US$1,66 miliar pada aset kripto secara keseluruhan. Jumlah ini terus memburuk hingga Rabu.
Konflik ini sudah mengganggu pengiriman minyak di Selat Hormuz, menaikkan tekanan inflasi, dan mendorong pergeseran global ke posisi defensif yang kini juga memengaruhi pasar kripto serta saham.
Analis kini memantau level US$60.000 sebagai support utama berikutnya. Wallet terkait Mt. Gox ikut memberi tekanan suplai setelah memindahkan 10.422 BTC atau setara sekitar US$739 juta ke alamat baru.

