Bisnis semakin cepat meningkatkan penggunaan stablecoin untuk pembayaran global, menurut data terbaru Paybis. Laporan ini menunjukkan adopsi enterprise yang meningkat sementara aktivitas perdagangan ritel menurun di pasar kripto. Laporan ini juga menyoroti ketergantungan yang semakin besar pada stablecoin untuk penyelesaian lintas batas dan operasi treasury.
Paybis mempresentasikan temuan ini selama konferensi Money20/20 Europe yang diadakan di Amsterdam. Perusahaan melaporkan bahwa stablecoin kini mendominasi volume transaksi di platformnya. Perusahaan juga mengonfirmasi bahwa klien bisnis mendorong hampir semua aktivitas terkait stablecoin.

Paybis melaporkan bahwa stablecoin menyumbang 86% dari total volume transaksi kripto pada April 2026. Angka ini meningkat tajam dari 12% yang tercatat pada Juli 2023. Data menunjukkan pergeseran kuat ke arah transaksi berbasis stablecoin di antara pengguna platform. Hal ini juga mencerminkan kepercayaan yang semakin besar terhadap aset digital yang dipatok ke dolar untuk operasi bisnis.
Laporan tersebut menyatakan bahwa 22,5% perusahaan yang disurvei sudah menggunakan stablecoin atau berencana mengadopsinya dalam waktu dekat. Perusahaan-perusahaan ini mengintegrasikan stablecoin ke dalam sistem pembayaran dan alur kerja treasury. Paybis menyatakan, "Bisnis bergerak menuju kasus penggunaan praktis daripada perdagangan spekulatif." Tren ini mencerminkan perubahan prioritas di seluruh sektor aset digital.
Transaksi business-to-business menyumbang hampir semua aktivitas stablecoin di platform. Paybis melaporkan bahwa transaksi B2B mencapai 96,9% dari volume pada 2025. Pangsa ini meningkat lebih lanjut menjadi 97,8% selama awal 2026. Angka-angka tersebut mengonfirmasi bahwa perusahaan memimpin pertumbuhan transaksi stablecoin.
Perusahaan juga melaporkan volume stablecoin sebesar $2,81 miliar selama Mei 2026. Aktivitas antara Januari dan April meningkat 135% dibandingkan tahun sebelumnya. Angka-angka ini menunjukkan ekspansi penggunaan yang stabil di berbagai sektor bisnis. Hal ini juga mengonfirmasi meningkatnya permintaan terhadap alternatif pembayaran yang lebih cepat.
Paybis mengidentifikasi Barang Digital sebagai kontributor terbesar dalam volume transaksi stablecoin. Sektor ini telah memimpin aktivitas B2B sejak April 2024. Penyedia layanan aset virtual mengikuti secara ketat dalam total penggunaan. Perusahaan teknologi juga meningkatkan transaksi berbasis stablecoin di seluruh operasi global.
Perusahaan ritel dan e-commerce juga memperluas adopsi pembayaran stablecoin di pasar lintas batas. Perusahaan fintech mengintegrasikan stablecoin ke dalam jalur pembayaran dan sistem penyelesaian. Industri-industri ini membutuhkan transfer cepat dan biaya yang dapat diprediksi untuk transaksi global. Stablecoin menyediakan fitur-fitur ini tanpa penundaan perbankan tradisional.
Hasil survei menunjukkan ekspektasi yang beragam terkait kecepatan transaksi dan biaya. Lebih dari separuh responden mengharapkan penyelesaian hampir instan untuk transfer stablecoin. Yang lain percaya transaksi bisa memakan waktu hingga satu hari. Perbedaan-perbedaan ini menyoroti kesenjangan dalam pemahaman pengguna.
Peserta juga menunjukkan ekspektasi yang bervariasi mengenai biaya transaksi di jaringan stablecoin. Banyak pengguna mengharapkan biaya yang lebih tinggi meskipun rata-rata biaya tetap di bawah 1%. Paybis menyatakan, "Edukasi tetap menjadi hambatan utama untuk adopsi yang lebih luas." Laporan ini menekankan perlunya informasi yang lebih jelas mengenai kinerja.
Eksekutif Paybis mengatakan stablecoin kini berfungsi sebagai infrastruktur pembayaran inti bagi bisnis. Mereka menyoroti perlunya akses yang lebih baik ke layanan perbankan dan jalur pembayaran yang patuh. Perusahaan juga menekankan pentingnya sistem on-ramp dan off-ramp yang andal.
The post Stablecoin Payment Volume Soars as Firms Shift to Digital Settlements appeared first on CoinCentral.
