Regulator pasar India menuduh Rajesh Exports, perusahaan emas besar di balik perusahaan pemurnian Swiss Valcambi, telah melebihkan sekitar US$158 miliar pendapatan dalam lima tahun terakhir. SEBI menyatakan jumlah tersebut setara dengan 99,8% dari pendapatan yang diklaim berasal dari anak usahanya.
Securities and Exchange Board of India (SEBI) mengeluarkan perintah sementara pada 3 Juni. SEBI melarang promoter dan chairman Rajesh Mehta dari pasar sekuritas dan memerintahkan audit forensik baru.
Rajesh Exports membangun profil Fortune Global 500 berdasarkan pendapatan konsolidasi. Antara 97% sampai 99% dari total tersebut berasal dari anak perusahaan luar negeri, terutama Valcambi. SEBI menyampaikan auditor tidak dapat mencocokkan angka-angka itu dengan catatan anak perusahaan.
Penyelidikan ini bermula dari keluhan salah satu pemegang saham pada Maret 2024 terkait piutang dagang yang besar. SEBI menyebut perusahaan gagal menyerahkan bukti kepemilikan, pernyataan rekonsiliasi, atau bukti transaksi meski sudah berulang kali diminta.
Regulator menuduh perusahaan membukukan seluruh nilai kotor emas yang dimurnikan sebagai pendapatannya sendiri. Padahal banyak logam tersebut milik pelanggan dan perusahaan hanya menangani pemurnian dengan biaya jasa.
Laporan keuangan Valcambi yang sudah diaudit dilaporkan hanya menunjukkan kurang dari 0,5% dari total yang diklaim oleh grup.
Kasus ini muncul saat pasar emas tokenisasi terus berkembang dan para investor kembali memperhatikan narasi emas sebagai aset safe haven. Hal ini memunculkan pertanyaan baru tentang bagaimana arus emas fisik dinilai dan dilaporkan.
Ikuti kami di X untuk mendapatkan berita terbaru secara langsung
SEBI menemukan transaksi sekitar ₹11.487 crore, atau sekitar US$1,3 miliar, dengan broker Affluence Shares and Stocks. Broker tersebut mengatakan kepada regulator bahwa Rajesh Exports bukanlah klien mereka dan tidak pernah ada transaksi yang terjadi.
Perintah SEBI juga menyebut dana perusahaan masuk ke rekening pribadi Mehta untuk trading derivatif tanpa persetujuan dewan direksi. SEBI menolak alasan perusahaan yang menolak memberikan data keuangan anak perusahaan dengan alasan hukum privasi Swiss.
Klaim ini membuat auditor kembali menjadi sorotan, mengulang perdebatan lama mengenai pengawasan dalam beberapa skandal keuangan terbesar.
Kasus ini juga mencerminkan kekhawatiran yang lebih luas tentang tokenisasi aset dunia nyata dan keharusan jaminan yang bisa diverifikasi.
Rajesh Exports membantah telah melakukan pelanggaran. Dalam pengajuan ke exchange, perusahaan menyebut perintah SEBI ini bersifat sementara dan belum mengambil kesimpulan akhir, serta menyatakan pelaporan pendapatannya mengikuti standar akuntansi. Perusahaan menganggap perbedaan angka muncul karena perbandingan nilai emas kotor dengan pendapatan dari jasa pemrosesan.
Meski begitu, pasar langsung bereaksi. Sahamnya menyentuh batas bawah di sekitar ₹104 (US$1,09) pada 4 Juni. Life Insurance Corporation tercatat memegang sekitar 10,8% saham perusahaan, dan sekitar 194.000 investor ritel turut terdampak.
Arahan SEBI ini bersifat sementara dan sepihak, jadi belum ada keputusan bersalah secara final. Perusahaan memiliki waktu 30 hari untuk memberikan tanggapan secara rinci, dan audit forensik baru akan dilakukan.
Bagaimana regulator merekonsiliasi nilai emas kotor dengan biaya pemrosesan akan menjadi penentu apakah label misrepresentasi itu tetap melekat.
Sumber utama meliputi perintah sementara SEBI dan pengajuan perusahaan.

