Seorang pejabat senior The Fed kembali mengangkat isu potensi kenaikan suku bunga di tahun 2026, sehingga menambah tekanan baru pada saham di AS. Neel Kashkari, presiden Federal Reserve Bank of Minneapolis, pada hari Jumat mengatakan bahwa saat ini ia memperkirakan akan ada satu kenaikan suku bunga di tahun 2026 dan tidak melihat penurunan suku bunga dalam waktu dekat.
Pernyataan Kashkari sangat penting karena selama ini ia dikenal sebagai salah satu pembuat kebijakan The Fed yang cukup dovish. Pergeseran sikap ini menandakan bahwa kekhawatiran inflasi mulai meluas di dalam bank sentral, sehingga para investor kini harus mempertimbangkan ulang berapa lama biaya pinjaman akan tetap tinggi.
Pernyataan Kashkari muncul tak lama setelah rapat kebijakan The Fed bulan Juni, di mana para pejabat suara bulat 12-0 untuk mempertahankan suku bunga di kisaran 3,50% hingga 3,75%.
Sinyal yang lebih besar muncul dari proyeksi para pejabat The Fed sendiri. Sembilan dari delapan belas pejabat kini memperkirakan setidaknya ada satu kenaikan suku bunga di tahun 2026. Proyeksi median juga naik menjadi 3,8% dari sebelumnya 3,4% pada bulan Maret.
Investor sepanjang tahun ini mengira bahwa langkah besar berikutnya adalah pemangkasan suku bunga. Pertemuan bulan Juni justru melemahkan asumsi tersebut dan mendorong pasar ke arah kemungkinan yang lebih tidak nyaman: biaya pinjaman bisa bertahan lebih tinggi dan lebih lama.
Ketua Fed Kevin Warsh juga mulai meninggalkan strategi forward guidance, yaitu memberikan petunjuk jelas kepada pasar tentang arah kebijakan ke depan. Kondisi ini membuat setiap rilis laporan inflasi dan data ketenagakerjaan menjadi sangat penting, karena kini para trader memiliki lebih sedikit sinyal awal dari bank sentral.
Pasar sudah merespons risiko ini. Harga Futures menunjukkan para trader melihat peluang sekitar 30% untuk kenaikan di bulan Juli, menurut data CME FedWatch. Mereka juga memperkirakan kemungkinan setidaknya satu kenaikan lagi pada Desember sekitar 76%, sehingga risiko kenaikan suku bunga The Fed berikutnya tetap menjadi perhatian utama.
Ikuti kami di X untuk dapatkan berita terbaru secara real-time
Suku bunga tinggi yang bertahan lama akan membebani saham pertumbuhan dan teknologi. Kondisi ini menaikkan tingkat diskonto dan biaya pinjaman untuk perusahaan yang memiliki utang.
Aset kripto juga berada dalam kelompok yang sensitif terhadap kebijakan suku bunga. Bitcoin baru-baru ini diperdagangkan di kisaran US$60.000, naik sekitar 1,3% dalam 24 jam terakhir.
Siklus kenaikan terakhir menunjukkan besarnya risiko yang ada. Saat The Fed menaikkan suku bunga selama tahun 2022, Bitcoin turun dari sekitar US$69.000 ke mendekati US$15.500.
Kenaikan suku bunga di akhir 2026 nanti akan semakin memperkuat latar belakang di balik proyeksi bearish belakangan ini.
Co-founder BitMEX, Arthur Hayes, memperkirakan Bitcoin akan menyentuh titik terendah di US$40.000 dalam enam bulan ke depan, dengan alasan The Fed yang semakin hawkish. Jendela waktu enam bulan ini juga berlanjut hingga akhir 2026, periode yang juga disorot Kashkari sebagai waktu potensial untuk kenaikan suku bunga.
Miner Bitcoin terbesar di Cina, Jiang Zhuoer, memperkirakan level bawah yang serupa di kisaran US$42.000 hingga US$44.000 pada akhir 2026. Ia mendasari proyeksinya pada Strategy mNAV di dekat 0,72, yang mendekati titik terendah bear market tahun 2022. Kedua target tersebut sekitar 27% hingga 34% di bawah harga saat ini.
Sinyal lain justru menunjukkan arah sebaliknya. Wintermute menyatakan leverage sudah banyak berkurang, sementara Hayes tetap percaya target akhir tahun di atas US$200.000.
Sekarang, investor menantikan data inflasi dan lapangan kerja terbaru sebagai sinyal berikutnya. Apakah kenaikan suku bunga versi Kashkari benar terjadi di akhir 2026 akan sangat menentukan valuasi saham dan proyeksi harga Bitcoin hingga akhir tahun.
