Para pembuat film sudah menggunakan artificial intelligence (AI) untuk memangkas biaya produksi animasi hingga 90%. Data ketenagakerjaan terbaru dari California menegaskan bahwa industri ini tidak menunggu teknologi ini menjadi lebih matang.
Sektor film dan rekaman suara di Los Angeles County kehilangan 6.700 pekerjaan secara tahunan hingga Mei 2026. Secara total, angka ini mewakili lebih dari 90% penurunan tenaga kerja di seluruh sektor informasi di wilayah tersebut.
Animator dan sutradara yang sedang menggarap produksi melaporkan mereka memanfaatkan AI untuk merombak alur kerja produksi. Alat AI ini bukan hanya mempercepat tugas yang sudah ada, tetapi juga menggantikan seluruh lapisan staf mulai dari pembuatan storyboard, perancangan karakter, hingga pembersihan pascaproduksi.
Opini masyarakat terbagi tajam terkait perubahan ini. Beberapa kreator berpendapat bahwa AI akan menurunkan hambatan produksi dan memperluas kemungkinan bercerita. Sementara itu, sebagian lainnya meyakini teknologi ini akan memusnahkan tenaga kerja terampil yang selama puluhan tahun membangun industri animasi Hollywood.
Di sisi lain, sinyal investasi menunjukkan studio tidak menunggu perdebatan ini selesai. Amazon Web Services baru-baru ini mendukung sebuah startup produksi Hollywood yang menggunakan AI untuk menekan biaya dan mempersingkat waktu produksi.
Langkah tersebut menandakan studio memandang efisiensi AI sebagai kebutuhan struktural, bukan sekadar tren sementara.
Pasar tenaga kerja AS secara umum juga menunjukkan arah serupa. PHK akibat AI meningkat di berbagai industri pada awal 2026 seiring perusahaan membangun tim yang lebih ramping dan otomatis. Goldman Sachs memperkirakan bahwa AI telah memangkas sekitar 16.000 pekerjaan per bulan di AS selama setahun terakhir.
Namun, konsentrasi PHK di sektor hiburan jauh lebih tinggi dibanding sektor lain menurut ukuran apapun.
Kehilangan 6.700 pekerjaan di bidang film di LA County itu adalah perbandingan tahun ke tahun, bukan hanya untuk satu bulan. Data dalam laporan EDD California menunjukkan tekanan terhadap studio dan rumah produksi berlangsung secara terus-menerus selama periode tersebut.
Riset menambah satu lapisan lagi terhadap risiko bagi para pekerja. Pekerja yang enggan menggunakan alat AI memiliki risiko kena PHK tiga kali lipat dibanding rekan yang mengadopsinya. Pola ini terjadi di berbagai sektor.
Animator menghadapi pilihan sulit. Mereka harus menerima teknologi yang menggantikan peran mereka, atau terancam kehilangan pekerjaan karena tidak beradaptasi.
Disrupsi ini juga meluas ke sektor lain di luar film. AI sudah mengubah proses rekrutmen di sektor perjudian tahun ini. Pekerja teknologi yang mencari pekerjaan di bidang kripto sebagai cara menghindari otomatisasi menunjukkan kecemasan meluas di industri pekerja pengetahuan.
Pembuat film kini menyebut pemangkasan biaya hingga 90% ini sudah bisa dicapai saat ini, bukan sekadar proyeksi masa depan. Pertanyaannya, berapa banyak lagi peran produksi yang akan hilang sebelum industri menemukan keseimbangan baru?

