Pfizer, Anthropic, dan peneliti longevity terkemuka memandang AI (artificial intelligence) sebagai faktor paling krusial yang memengaruhi dunia kesehatan, mulai dari desain molekul, uji coba obat, hingga penelitian penuaan.
Biopharma, laboratorium frontier model, dan kedokteran akademik semua melaporkan kemajuan besar yang didorong oleh AI, walaupun para peneliti mengingatkan bahwa regulasi, kebutuhan komputasi, dan kompleksitas biologis tetap menjadi penentu utama kecepatan inovasinya.
CEO Pfizer Albert Bourla mengungkapkan dalam sebuah acara di Bloomberg TV bahwa perusahaannya sedang meninjau molekul baru yang para ilmuwannya hasilkan menggunakan AI.
Pernyataan ini sangat sejalan dengan strategi yang telah disampaikan Pfizer. Sejak 2020, Pfizer telah membayar hingga US$350 juta ke PostEra untuk pembuatan molekul kecil dan payload antibody-drug conjugate hasil desain AI.
Pada Januari lalu, mereka mengumumkan kolaborasi strategis bersama tim foundation model Boltz biomolekuler untuk meningkatkan model open-source dengan data internal milik Pfizer.
Pfizer Ventures sebelumnya juga menjadi pendukung longevity vehicle VitaDAO, mencerminkan keinginan perusahaan untuk bertaruh di ranah biologi dengan sentuhan AI.
Pada acara eksklusif layanan keuangan Anthropic di New York, CEO Dario Amodei menyebutkan bahwa laboratorium AI di Cina kemungkinan tertinggal 6 hingga 12 bulan dari kemampuan frontier model di AS, sementara laboratorium AS lainnya tertinggal 1 sampai 3 bulan dari Anthropic.
Acara ini berlangsung bersamaan dengan peluncuran Claude Opus 4.7 dan hadirnya berbagai agen AI baru yang ditujukan untuk bank, termasuk alat pendeteksi kejahatan keuangan yang dikembangkan bersama FIS.
Amodei juga menyoroti makin sempitnya waktu untuk menambal celah keamanan. Ia menyebut model Mythos milik Anthropic telah menemukan puluhan ribu celah keamanan perangkat lunak yang sebelumnya belum pernah diketahui.
Berdasarkan hal ini, ia memperingatkan bahwa pemerintah dan perusahaan besar punya jendela waktu 6 sampai 12 bulan untuk memperbaiki celah sebelum model-model Cina mampu mengejar ketertinggalan.
Valuasi prapublik perusahaan ini telah menembus US$1 triliun pada April lalu, dan Amodei menjelaskan di hadapan para tamu bahwa pendapatan kuartal pertama tumbuh sekitar 80 kali lipat secara tahunan.
Ahli biogerontologi Aubrey de Grey dan profesor imunologi Derya Unutmaz menyampaikan dalam podcast BeInCrypto terbaru bahwa AI kini menjadi jalan yang kredibel untuk membalikkan proses penuaan.
Unutmaz memperkirakan bahwa mayoritas penyakit bisa diatasi dalam waktu 10 hingga 15 tahun ke depan, sedangkan de Grey menilai kemungkinan mencapai escape velocity longevity pada akhir 2030-an berada di kisaran 50 persen.
Langganan saluran YouTube kami untuk menyaksikan pemimpin dan jurnalis memberikan insight ahli
Unutmaz menyampaikan pendapat lebih tegas soal praktik kedokteran dalam obrolan yang sama.
Tiga sinyal utama pekan ini mengarah ke satu hal. Produsen obat, laboratorium frontier, dan peneliti akademik kini bersama-sama melihat AI sebagai pendorong utama perkembangan healthcare, sedangkan regulasi, pasokan komputasi, dan kesenjangan data biologis masih menjadi kendala terbesar.
Apakah molekul Bourla akan masuk ke uji coba, klaim Amodei soal kesenjangan laboratorium bisa terbukti lewat benchmark independen, dan riset longevity mampu menghadirkan terobosan tikus de Grey — semua hal ini akan menentukan seberapa cepat perkembangan bidang ini dalam sisa dekade mendatang.
Ikuti kami di X untuk mendapatkan berita terbaru secara langsung

