Pacific Investment Management Company (PIMCO), salah satu manajer obligasi terbesar di AS, memperingatkan bahwa The Fed mungkin perlu menaikkan suku bunga, bukan menurunkannya.
Hal ini terjadi karena perang AS-Iran mendorong inflasi naik dan menggoyahkan target inflasi bank sentral di level 2%.
CIO Dan Ivascyn menyebut penutupan Selat Hormuz oleh Iran semakin memperparah tantangan lama yang dihadapi pembuat kebijakan AS yang kesulitan menurunkan inflasi hingga sesuai target.
Ivascyn pun memperingatkan bahwa menurunkan biaya pinjaman pada saat ini bisa berakibat sebaliknya.
CEO Franklin Templeton Jenny Johnson juga menilai inflasi akan sulit dikendalikan.
Sementara itu, Goldman Sachs mengundur proyeksi pemotongan suku bunga The Fed berikutnya ke Desember 2026 dan Maret 2027. Bank itu memprediksi kenaikan biaya energi akan membuat Core PCE tetap di kisaran 3% hingga 2026.
Ikuti kami di X untuk mendapatkan berita terbaru secara real-time
The Fed menahan suku bunga acuan di level 3,50% hingga 3,75% sejak Januari 2026, setelah tiga kali pemangkasan selama 2025. Harga konsumen pada Maret naik 0,9% bulan ke bulan, mendorong inflasi tahunan menjadi 3,3%.
Indeks Personal Consumption Expenditures (PCE), indikator pilihan The Fed, juga naik menjadi 3,5%, level tertinggi dalam hampir tiga tahun terakhir.
Lintasan suku bunga tinggi dalam waktu lebih lama membuat valuasi aset berisiko seperti Bitcoin (BTC) dan Ethereum (ETH) ikut tertekan. Selama ini, dolar AS yang menguat akibat outlook tersebut cenderung menekan pasar kripto secara lebih luas, sementara altcoin menanggung beban jual yang paling besar.
Bitcoin sempat kembali di atas US$80.000 pada awal Mei setelah pemerintahan Trump mengambil langkah meredakan ketegangan dengan Iran. Tapi, perubahan sikap hawkish The Fed pada rapat FOMC Juni bisa membatasi kemampuan kenaikan berikutnya.
Langganan channel YouTube kami untuk menyimak wawancara para pemimpin dan jurnalis memberi insight ahli

