Risalah terbaru dari Federal Reserve menunjukkan nada yang lebih hawkish daripada perkiraan pasar, sehingga memperkuat kekhawatiran bahwa suku bunga bisa tetap tinggi lebih lama dan berpotensi memberi tekanan pada Bitcoin serta aset berisiko lainnya.
Risalah dari pertemuan tanggal 28-29 April mengungkap bahwa banyak pengambil kebijakan ingin sepenuhnya menghapus bias pelonggaran The Fed, sedangkan mayoritas memberi sinyal bahwa kenaikan suku bunga tambahan bisa menjadi perlu jika inflasi tetap tinggi.
Para pejabat menyoroti naiknya harga energi, tarif, dan ketidakstabilan geopolitik yang berkaitan dengan konflik di Timur Tengah sebagai risiko utama inflasi.
The Fed akhirnya menahan suku bunga di level 3,50%–3,75%, namun pertemuan ini memperlihatkan salah satu perbedaan kebijakan terbesar dalam beberapa tahun terakhir.
Ikuti kami di X untuk mendapatkan berita terbaru secara langsung
Pertemuan tersebut menampilkan empat perbedaan pendapat, jumlah terbanyak sejak tahun 1992.
Stephen Miran lebih memilih pemangkasan suku bunga sebesar 25 basis poin, memberi peringatan bahwa kebijakan bisa menjadi terlalu ketat seiring meningkatnya risiko di pasar tenaga kerja. Sementara itu, Beth Hammack, Neel Kashkari, dan Lorie Logan tidak setuju untuk mempertahankan bahasa yang mengisyaratkan pelonggaran ke depan.
Para pejabat juga memberi peringatan bahwa ekspektasi inflasi dapat menjadi “lepas kendali” jika tekanan harga tetap tinggi.
Staf The Fed memperkirakan inflasi PCE utama naik menjadi 3,5% pada bulan Maret, dari 2,8% di bulan Februari, sebagian besar didorong oleh kenaikan harga minyak dan gangguan pasokan yang berkaitan dengan ketegangan di Timur Tengah.
Pembuat kebijakan juga menyoroti tarif, biaya pengiriman, harga pupuk, dan inflasi di sektor teknologi sebagai risiko yang memperumit proses penurunan inflasi.
Hathorn menambahkan bahwa interpretasi bernada hawkish dapat mendorong yield Treasury dan dolar AS lebih tinggi, sekaligus memberikan tekanan pada pasar saham dan aset kripto.
Reaksi Bitcoin kemungkinan besar akan bergantung pada ekspektasi likuiditas dan pergerakan di pasar obligasi.
Ia menyebutkan zona US$76.000–US$74.800 sebagai area support penting, sedangkan US$82.000 menjadi resistance utama jika pasar menafsirkan risalah The Fed secara lebih dovish.
Investor kini akan fokus ke data inflasi mendatang dan pertemuan Federal Open Market Committee pada bulan Juni guna mencari konfirmasi apakah The Fed akan tetap mempertahankan sikapnya yang semakin hawkish.
Pasar juga mencermati transisi dari Jerome Powell ke Kevin Warsh, dengan para trader mengevaluasi apakah kepemimpinan baru akan memperpanjang kebijakan moneter ketat hingga lebih dalam ke tahun 2026.


