Demam AI senilai US$2 triliun dari Big Tech sedang menyembunyikan cacat struktural. Para pengkritik mengatakan para raksasa ini diam-diam membayar diri mereka sendiri lewat tagihan cloud milik mereka, sehingga memicu kekhawatiran baru soal bubble AI yang semakin mirip dengan era dot-com.
Dokumen perusahaan terbaru menunjukkan bahwa OpenAI dan Anthropic sendiri mendominasi lebih dari setengah dari sekitar US$2 triliun komitmen cloud di masa depan yang dimiliki oleh Microsoft, Amazon, Google, dan Oracle. Ini artinya, empat perusahaan dengan valuasi triliunan dolar bergantung pada dua startup yang belum meraih keuntungan.
Para pengkritik menyebut mekanisme ini sebagai putaran pendanaan timbal balik. Perusahaan teknologi besar menulis cek bernilai miliaran dolar kepada startup AI. Namun, kontrak tersebut memaksa uang itu kembali lagi dalam bentuk biaya sewa cloud. Secara praktis, uangnya tidak pernah benar-benar keluar dari “gedung” mereka sendiri.
Investasi US$13 miliar Microsoft di OpenAI adalah contoh klasik. Investasi ini sebagian besar diberikan dalam bentuk credit cloud Azure. OpenAI kemudian menggunakan credit tersebut untuk melatih model, dan Microsoft mencatat penggunaan tersebut sebagai pendapatan komersial baru.
Tagihan cloud tahunan OpenAI dilaporkan telah membengkak lebih dari US$60 miliar. Namun, pendapatan nyata perusahaan berada lebih mendekati US$25 miliar.
Langganan ke channel YouTube kami untuk menonton para pemimpin dan jurnalis berbagi wawasan ahli
Anthropic juga melakukan hal serupa dengan Amazon. Pengembang Claude ini menghabiskan US$2,66 miliar pada Amazon Web Services dalam sembilan bulan, yakni sekitar setiap dolar yang mereka peroleh.
Pola ini mengingatkan pada tahun 2001, ketika Global Crossing dan Qwest Communications saling tukar kapasitas serat optik untuk membangun penjualan fiktif.
Pada akhirnya, Qwest harus menghapus US$1,4 miliar pendapatan fiktif, dan Global Crossing bangkrut. Versi tahun 2026 ini sepenuhnya legal karena mengikuti aturan akuntansi yang berlaku sekarang.
Bagian kedua dari loop ini terjadi di laporan laba rugi. Setiap putaran pendanaan baru pada startup AI membuat Big Tech yang menjadi investor bisa menaikkan valuasi investasinya dan langsung mencatat kenaikan di laporan laba bersihnya.
Alphabet membukukan rekor laba US$62,6 miliar di kuartal 1 2026. Sekitar US$28,7 miliar dari angka tersebut berasal dari kenaikan nilai investasi di Anthropic, menurut laporan mereka.
Amazon juga melakukan trik serupa. Sekitar US$16,8 miliar dari US$30,3 miliar laba bersihnya berasal dari kisah pendapatan Anthropic yang sama, menurut analisis dari Fortune.
Di balik laba utama tersebut, arus kas bebas Amazon anjlok 95% menjadi US$1,2 miliar. Perusahaan ini menggelontorkan US$44,2 miliar untuk membangun pusat data fisik di kuartal yang sama.
Saat ini, Microsoft mengandalkan OpenAI untuk 49% dari backlog masa depan senilai US$627 miliar. Oracle bahkan lebih menggantungkan, dengan 54% dari total pipeline US$553 miliar mengandalkan pelanggan utama yang sama.
Masalah yang lebih besar muncul begitu AI keluar dari “loop” yang dilindungi dan masuk ke pertemuan anggaran. Perusahaan biasa tidak bisa mendaur ulang belanja infrastruktur menjadi pendapatan sendiri, dan tagihannya berdatangan dengan cepat.
Uber menghabiskan seluruh anggaran coding AI tahun 2026 pada bulan April, setelah memberikan akses Claude Code dan Cursor dari Anthropic kepada ribuan engineer. Beberapa staf bahkan menghabiskan US$500 hingga US$2.000 per bulan untuk biaya API.
Microsoft, meski sudah menjalin kemitraan senilai miliaran dolar dengan Anthropic, tetap menginstruksikan pegawainya agar berhenti menggunakan Claude Code secara internal karena konsumsi tokennya sudah tak lagi berkelanjutan, menurut laporan Fortune.
Wakil presiden pengembangan deep learning di Nvidia, Bryan Catanzaro, bahkan mengakui bahwa timnya kini mengeluarkan lebih banyak untuk biaya komputasi dibanding gaji pegawai manusia.
Chip yang lebih murah mungkin tak akan memperbaiki matematika ini. Harga token yang turun justru mendorong beban kerja agen yang lebih berat, dan belanja AI perusahaan kemungkinan terus naik meski harga perangkat keras turun drastis sekalipun.
Pertanyaan di pasar sekarang bukan lagi apakah AI bisa tumbuh, melainkan apakah AI bisa menghasilkan untung bagi dirinya sendiri.
Reksa dana indeks dan akun pensiun kini makin terlibat pada kelompok perusahaan bernilai triliunan dolar, di mana keuntungan yang terkait AI sangat bergantung pada beberapa startup yang sebenarnya belum untung.
Investor aset kripto punya kepentingan langsung. Bitcoin (BTC) mencatat korelasi dengan Nasdaq sebesar 0,75 pada Januari 2026,
Artinya, setiap perubahan pada perdagangan Nvidia dan OpenAI kemungkinan langsung berdampak pada aset digital. Token AI yang memang sudah sangat fluktuatif, bakal langsung terkena efeknya lebih dulu.
Harga chip yang makin turun, adopsi AI yang makin luas, atau perhitungan untung rugi yang sangat ketat, kini jadi penentu babak berikutnya, karena ledakan AI telah resmi memasuki fase pembuktian.
Menariknya, dunia keuangan mainstream sudah mulai memperhatikan fenomena ini. Framework gelembung AI milik Fidelity bahkan mencatat lima indikator peringatan.
Laporan Q1 dari perusahaan Big Tech sudah memunculkan dua peringatan yaitu kualitas pendapatan dan kemampuan membiayai capex.
Ledakan AI mungkin saja tidak akan sempat membuktikan dirinya jika lampu peringatan terus bermunculan.

