Anthropic menemukan bahwa artificial intelligence (AI) kini mampu melakukan tugas serangan tingkat lanjut atas nama hacker yang kurang memiliki keahlian, pekerjaan yang sebelumnya membutuhkan keterampilan teknis tinggi, sehingga melemahkan keterkaitan lama antara keahlian pelaku serangan dengan tingkat bahaya yang mereka timbulkan.
Kesimpulan ini diambil dari studi selama satu tahun terhadap 832 akun yang diblokir. Temuan ini menunjukkan bahwa hambatan untuk menyerang infrastruktur aset kripto menjadi lebih rendah karena pelaku dasar kini mendapatkan kemampuan elit.
Anthropic merilis temuan ini dalam sebuah laporan. Data tersebut mencakup akun yang diblokir dari Maret 2025 hingga Maret 2026.
Laporan itu menyoroti bahwa tim keamanan selama ini menilai tingkat ancaman berdasarkan berapa banyak teknik atau alat yang digunakan seorang penyerang. Anthropic menegaskan bahwa indikasi ini kini tidak lagi relevan.
Pelaku yang kurang terampil rata-rata menggunakan sekitar 16 teknik. Sementara pelaku paling terampil rata-rata menggunakan sekitar 20 teknik. Platform yang digunakan, baik Claude Code, API, atau chat tool, juga tidak menunjukkan kaitan dengan risiko ancaman.
Ikuti kami di X untuk mendapatkan berita terbaru secara langsung
Laporan itu juga menemukan bahwa pelaku serangan semakin banyak menggunakan AI lebih dalam ke rantai serangan. Walaupun aktivitas phishing berbantuan AI turun 8,6%, penemuan akun dalam jaringan yang sudah terkompromi dengan bantuan AI justru naik 8,9%.
Anthropic mengungkapkan bahwa AI kini dipakai untuk mendukung “teknik beroperasi yang menuntut,” seperti eskalasi hak akses, pergerakan lateral, dan penemuan akun, tugas-tugas yang sebelumnya hanya mampu dilakukan pelaku dengan kemampuan teknis lebih tinggi.
Akibatnya, proporsi pelaku yang tergolong risiko sedang atau lebih tinggi meningkat dari 33% pada paruh pertama periode studi menjadi 56% di paruh kedua, naik 1,7 kali lipat.
Dari 832 akun yang diblokir yang dianalisis, 67,3% menggunakan AI untuk membantu dalam pembuatan malware, sedangkan 6,5% menggunakannya untuk gerakan lateral di dalam sistem yang telah dikompromi.
Temuan ini sangat relevan bagi industri aset kripto, di mana serangan siber terus meningkat. Dengan menurunkan tingkat keahlian yang dibutuhkan untuk melakukan operasi rumit, AI memungkinkan lebih banyak pelaku ancaman menargetkan exchange, protokol, dan wallet digital.
Sektor aset kripto memang sudah mengalami lonjakan insiden keamanan. Pada Mei 2026 saja, industri ini mencatat 40 peretasan besar, yang menyebabkan kerugian besar.
Berlangganan ke channel YouTube kami untuk menonton pemimpin industri dan jurnalis berbagi wawasan ahli


