XRP anjlok 5% ke sekitar US$1,12 seiring serangan militer Israel di Lebanon selatan yang mengancam kesepakatan Trump-Iran. Serangan baru ini telah menunda pembicaraan penting dan kembali memicu ketakutan akan konflik regional yang lebih luas.
Konflik yang kembali memanas ini telah menunda pembicaraan penting, dan pesimisme kini menyelimuti tren jangka pendek XRP karena para trader memantau harga minyak dan level ekonomi makro.
Aksi risk-off terjadi ketika para trader menarik modal dari aset spekulatif di tengah ketidakpastian global yang semakin meningkat. Penurunan XRP sebesar 5% ke US$1,12 mencerminkan pola ini, memperlihatkan seberapa sensitif pasar aset kripto terhadap peristiwa geopolitik yang berubah dengan cepat.
Pemicu langsung berasal dari operasi militer Israel di Lebanon selatan. Akibatnya, upaya diplomatik Amerika Serikat untuk menstabilkan kawasan tersebut mendadak menemui hambatan baru. Serangan ini telah menunda pembicaraan penting antara pemerintahan Trump dan Iran.
Kesepakatan Trump-Iran dirancang untuk meredakan permusuhan dan menstabilkan jalur minyak utama, termasuk Selat Hormuz. Akan tetapi, gesekan yang terus-menerus antara Israel dan Hezbollah kini membawa ketidakpastian baru ke pasar energi sekaligus aset berisiko secara global.
Ikuti kami di X untuk mendapatkan berita terbaru secara langsung
Harga minyak bergerak kembali volatil karena kekhawatiran rantai pasok. Selain itu, para analis memperingatkan bahwa kesepakatan yang gagal bisa menyebabkan lonjakan biaya energi dan memperlambat pertumbuhan global, sehingga minat terhadap investasi spekulatif di saham dan aset kripto bisa semakin melemah.
Menurut data BeInCrypto Markets terbaru, XRP diperdagangkan dalam rentang 24 jam di antara US$1,13 dan US$1,18. Korelasi token ini dengan sentimen pasar aset kripto yang lebih luas masih terjaga, sementara Bitcoin dan Ethereum juga mengalami tekanan turun seiring ketidakpastian global makin tinggi dan trader melakukan likuidasi posisi.
Meski XRP punya kekuatan jangka panjang, para pengamat pasar menyoroti tumbuhnya pesimisme soal tren harga dalam waktu dekat. Analis teknikal mencatat penolakan berulang di kisaran US$1,15 sampai US$1,20, dengan sejumlah pihak memprediksi potensi retest ke zona support utama sebelum reli signifikan terjadi.
Fundamental tetap solid di atas kertas. XRP menawarkan transaksi final yang cepat yakni 3 sampai 5 detik, biaya rendah, dan adopsi yang terus tumbuh untuk pembayaran lintas negara melalui XRP Ledger. Selain itu, arus masuk ETF spot telah menembus hampir US$1 miliar dalam aset kelolaan, menurut data SoSoValue tersebut.
Walau begitu, berita-berita jangka pendek tetap menentukan perilaku trading. Data on-chain dan sentimen komunitas mencerminkan kehati-hatian, sementara kapitalisasi pasar aset kripto secara keseluruhan hanya bergerak moderat dalam sesi trading global terakhir.
Penjualan besar-besaran ini juga sejalan dengan likuidasi di seluruh pasar kripto. Penurunan 5% XRP mencerminkan penurunan pada aset kripto utama lain, dipicu oleh kekhawatiran bahwa kesepakatan yang gagal bisa mendorong kenaikan biaya energi dan pada akhirnya menurunkan minat terhadap investasi spekulatif di kripto.
Ke depannya, semuanya sangat bergantung pada hasil diplomasi di Timur Tengah. Jika Trump berhasil meredakan ketegangan atau menghidupkan kembali kemajuan kesepakatan Iran, sentimen risiko bisa pulih. Pemulihan ini mungkin dapat mengangkat XRP kembali ke kisaran US$1,20 atau lebih.
Sebaliknya, konflik berkepanjangan bisa membuat tren turun XRP makin dalam. Para trader memantau harga minyak, pernyataan kebijakan Amerika Serikat, dan level teknikal kunci secara saksama. Penurunan harga bisa menjadi peluang beli bagi holder jangka panjang, tapi volatilitas jangka pendek jelas menuntut kehati-hatian.
Subscribe ke YouTube kami untuk menonton pemimpin serta jurnalis berbagi wawasan ahli


