Mantan CTO Ripple, David Schwartz, telah menyelesaikan kembali perdebatan terkait asal-usul XRP (XRP), menegaskan bahwa konsep jaringan pembayaran pendahulu memang sudah ada lima tahun sebelum Bitcoin (BTC), namun XRP sendiri tidak.
Schwartz merespon melalui X setelah sebuah unggahan media sosial mengklaim bahwa XRP lebih dulu hadir dibanding Bitcoin selama puluhan tahun. Unggahan tersebut menyebut XRP sebagai aset digital tertua, sebuah label yang langsung dibahas oleh Schwartz dengan menegaskan batas tegas antara konsep awal dan koin yang kini dikelola oleh Ripple.
Ryan Fugger merancang konsep jaringan pembayaran dan penyelesaian secara terdesentralisasi sekitar tahun 2004. Konsep ini hadir kira-kira lima tahun sebelum Satoshi Nakamoto merilis white paper Bitcoin.
Schwartz menegaskan soal linimasa ini di X, namun menyoroti adanya hal penting yang terlewat. Rancangan Fugger sama sekali tidak memuat aset terdesentralisasi. Sistem yang kemudian dikenal sebagai RipplePay tersebut berfungsi sebagai jaringan kredit berbasis kepercayaan.
Pengguna mengalirkan nilai melalui hubungan kepercayaan yang sudah ada sebelumnya alih-alih menggunakan ledger kriptografi bersama. Tak ada native token dan tidak ada aset terbuka yang bisa diperdagangkan secara independen.
Schwartz pun menegaskan perbedaan itu di X.
Tapi, pemisahan itu memang penting. Bitcoin memperkenalkan aset bearer terbuka yang dijamin melalui proof of work. Sementara itu, XRP Ledger menghadirkan modelnya sendiri untuk transfer nilai secara terdesentralisasi, namun tiba setelah Bitcoin, bukan sebelumnya.
XRP Ledger mulai beroperasi pada 2012, tiga tahun setelah blok genesis Bitcoin ditambang pada Januari 2009. Jed McCaleb, Arthur Britto, dan Schwartz bersama-sama membangun protokol itu sebelum akhirnya Ripple mengambil alih pengelolaannya.
Linimasa ini secara langsung menggugurkan klaim tahun 1988. Konsep Fugger memang lebih dulu hadir sebelum Bitcoin, tapi konsep itu bukanlah sebuah koin. Baik XRP Ledger maupun token XRP sama-sama tercatat diluncurkan pada 2012.
Perbedaan ini punya makna lebih, bukan sekadar persoalan sejarah. CEO Ripple juga sempat mengkritik strategi korporasi Bitcoin, yang mencerminkan tensi yang lebih luas antara kedua komunitas tersebut.
Perdebatan ini mencerminkan pola yang sering muncul di industri aset kripto. Kisah asal mula sering kali merancukan antara ide dengan pelaksanaannya. Awal tahun ini, klaim Bitcoin ciptaan CIA juga mendapat banyak penolakan dengan pola dinamika yang serupa.
Token tersebut baru-baru ini menguji level psikologis US$1 usat koreksi tajam dari level tertingginya di awal. Sebagian investor masih menganggap koin ini sebagai lindung nilai inflasi jangka panjang, walaupun analis menilai secara matematis sulit membenarkan hal tersebut di harga saat ini.
Schwartz tetap aktif di komunitas bahkan di luar isu asal-usul XRP. Baru-baru ini ia membahas soal perbedaan berinvestasi dan berjudi dalam sebuah unggahan yang memicu perdebatan tersendiri di kalangan para holder.
Seberapa jauh akar sejarah XRP mungkin tidak lebih penting dibanding arah tujuan Ripple selanjutnya. Baru-baru ini, perusahaan berhasil mendapatkan persetujuan MiCA Eropa melalui lisensi di Luksemburg, memperluas jangkauan regulasi mereka di benua tersebut.

